Berita Headline 

Bawa 5 gading gajah, wanita asal Tawao hadapi tuntutan hukum berlapis

SAMARINDA, CAHAYAKALTIM.com — Bekerja sama dengan Polres Nunukan dan Bea Cukai Nunukan, SPORC Brigade Enggang Seksi Wilayah II Samarinda Balai Gakkum Lingkungan Hidup dan Kehutanan (BPPHLHK) Wilayah Kalimantan berhasil menggagalkan upaya seorang wanita menyelundupkan lima gading gajah ke Indonesia.

Kepala Seksi Penindakan Balai Gakkum Lingkungan Hidup dan Kehutanan (BPPHLHK) Wilayah Kalimantan, Taqiudin, mengatakan, wanita tersebut datang dari Tawao, Sabah, Malaysia dengan membawa lima potong gading gajah.

“Asal gading gajah masih menunggu saksi ahli untuk memastikan asal usul gajah. Namun menurut penyelidikan sementara, gading gajah tersebut untuk dijadikan mahar pernikahan untuk orang tuanya,” kata Taqiudin, dalam pers release-nya, Senin (8/5/2017).

Temuan ini bermula, ketika tanggal 13 Januari 2017, jam 13.30 wita, pelaku MRA (37 thn) berangkat dari Pelabuhan Tawao, Sabah Malaysia menuju ke Pelabuhan Tunontaka Nunukan Kalimantan Utara Indonesia menggunakan Kapal Malindo Ekspress Pukul 12.00 siang waktu Tawao.

Petugas Bea dan Cukai Nunukan menemukan 5 (lima) potong gading gajah berdasarkan hasil pemeriksaan X-ray. Selanjutnya petugas melakukan interogasi terhadap pemilik gading gajah dan setelah itu 5 (lima) potong gading diserahkan ke Karantina Pertanian Kelas II Tarakan wilayah kerja Nunukan, kemudian diserahkan ke BKSDA Kalimantan Timur untuk disimpan dan diamankan.

Dalam penanganan perkara ini juga didukung oleh Balitek KSDA Samboja (ahli morfologis gading gajah), BKSDA Kaltim (ahli satwa liar yang dilindungi), Fakultas Hukum Univ. Mulawarman (ahli hukum pidana), saksi dari Bea Cukai Nunukan, Balai Karantina Pertanian Wilayah Kerja Nunukan dan KJRI Kota Kinabalu serta LO Mabes POLRI KJRI Kota Kinabalu, Sabah Malaysia

Tersangka MRA (37 tahun) ditahan di Lapas Nunukan sejak tanggal 4 Mei 2017 sedangkan barang bukti 5 (lima) potong gading gajah diamankan di BKSDA Kalimantan Timur.

Penyidik SPORC menjerat tersangka MRA (37 tahun) dengan Pasal 40 ayat (2) jo Pasal 21 Ayat (2) huruf d Undang-Undang RI Nomor 05 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya dengan ancaman hukuman penjara paling lama 5 tahun dan denda Rp. 100.000.000,- .

Penulis : Michael M

Editor : M Mailangkay

Berita Terkait