Berita Terkini Bumi Etam 

Belajar sampai Ke Provinsi Pars Brasil

SAMARINDA, CAHAYAKALTIM.com— Paragominas, kota kecil di Brasil yang masuk dalam Provinsi Para ini mendapat pukulan telak pada 2008 silam. Muasalnya adalah embargo yang dilakukan pemerintah Brasil atas laju deforestrasi tinggi di beberapa distrik dalam wilayah provinsi Para.

Status embargo ini tidak main-main, karena seluruh pendanaan bank maupun program pembangunan infrastruktur dari pemerintah federal kepada seluruh sektor di Paragominas terhenti. Lalu, bagaimana mereka bangkit dari keterpurukan embargo tersebut?

Lima perwakilan dari Kaltim berkunjung ke Para pada 25 Maret hingga 3 April 2017 lalu. Dalam rombongan ada Kepala Sub Bagian Perencanaan Program Dinas Kehutanan, Joko Istanto, Kepala Seksi Pemeliharaan Lingkungan Hidup Dinas Lingkungan Hidup, Muhammad Fadli, Dekan Fakultas Kehutanan Universitas Mulawarman Dr. Rudianto Amirta, Ketua Kelompok Kerja Green Growth Compact Dewan Daerah Perubahan Iklim Kaltim, Prof. Dr. Soeyitno Soedirman dan Project Lead Green Growth Compact The Nature Conservancy, Alfan Subekti.

Kunjungan ini bertujuan untuk melihat bagaimana Provinsi Para membangun Program Green Municipality Program yang serupa dengan Kaltim Hijau, mempelajari sistem pencatatan/ registry (sistem CAR) terhadap pengelolaan lingkungan dan perijinan satu pintu di Paragominas, serta melihat peluang-peluang insentif dan disinsentif yang mungkin dikembangkan di Kaltim.

Kaltim sendiri sudah mendeklarasikan sebagai provinsi Kaltim Hijau sejak 2010, tidak beda jauh dengan Provinsi Para. Bahkan pada Mei 2016 lalu, Kaltim memproklamirkan Kesepakatan Pembangunan Hijau atau Green Growth Compact yaitu “kerangka kerja” yang memberikan panduan kepada para pemangku kepentingan untuk mengembangkan rencana, kebijakan, dan tindakan yang lebih operasional untuk pembangunan hijau.

Berangkat dari kisah sukses tersebut, tim dari Kaltim melakukan sejumlah kunjungan ke pemerintahan, wilayah pengelolaan pertanian, kehutanan (termasuk agroforestry), dan para pengelola Sekretariat Green Municipality Program di Belem, Para. Pemerintah Provinsi Para mengukuhkan Program Green Municipality pada tahun 2011.

Upaya ini merupakan manifestasi penurunan tingkat deforestasi di Brasil secara drastis yang disebabkan alih fungsi hutan menjadi areal pertanian. Program green municipality ini mirip dengan Kesepakatan Pembangunan Hijau di Kaltim, yakni program yang pengelolaannya dibangun oleh pemerintah provinsi dan municipality (setingkat kabupaten/kota), kementrian, perusahaan swasta dan LSM maupun perwakilan masyarakat.

Dalam program Green Municipality di Para State, Brasil ini setidaknya telah begabung 107 municipality (kabupaten/kota) dalam program ini.

Sejak 2011 tersebut, Pemerintah Provinsi Para menjalankan sejumlah strategi untuk menuju transformasi ekonomi hijaudalam pengelolaan pertanian, dan kehutanan serta sumberdaya alam lainnya, meningkatkan pengelolaan lahan pertanian secara intensif serta reforestasi di wilayah yang telah dibuka, menyediakan peraturan lingkungan melalui CAR (Sistem Pencatatan Lingkungan wilayah Pedesaan) dan LAR (Perijinan Terpadu Lingkungan wilayah Pedesaan). Walhasil bisa dilihat di 2017, bahwa berdamai dengan alam ternyata justru meningkatkan perekenomian wilayahdi Para State, Brasil.

Muhammad Fadli mengatakan bahwa keberadaan sistem CAR adalah satu hal yang menarik. Dari sistem ini, transparansi dan akuntabilitas dunia usaha bisa dipantau semua pihak. Pengusaha yang ingin mendaftarkan usahanya dapat dipantau secara langsung karena data berbasis online. Sehingga jaminan atas kepastian lahan lebih utama. “Adanya transparansi ini berhasil meminimalkan konflik,” ujar dia. Baik konflik horisontal maupun vertikal.

Mengapa seluruh pihak di Paragominas mendukung pembangunan hijau? “Karena embargo yang diterima oleh Paragominas benar-benar mengganggu pembangunan di wilayah tersebut,” kata Alfan. Alfan mengamati bahwa dukungan para pelaku sektor ekonomi dimana para petani skala luas dan pengusaha-pengusaha industri pertanian sepakat untuk menerapkan CAR dan LAR dalam membangun basis ekonomi hijau di Paragominas. Komitmen inilah, Alfan melanjutkan yang mempercepat Paragominas keluar dari embargo dan membedakan dengan wilayah terembargo lainnya di Brasil.

Alfan mengatakan bahwa sistem sangsi dan insentif yang terintegrasi berperan besar dalam mencapai target-target penurunan deforestasi. Dukungan pihak perbankan serta pemerintah pusat dalam memberikan sangsi bagi daerah yang masih melakukan praktek-praktek deforestasi sangat efektif dalam memberikan efek jera bagi pemerintahan kabupaten. Sebaliknya insentif yang diberikan berupa kemudahan pembangunan infrastruktur maupun pencairan kredit pertanian menjadi pemicu terciptanya pembangunan sektor ekonomi yang menggeliat.

Kunjungan ke Para, menurut Joko Istanto, bermanfaat sebagai tambahan pengetahuan dan pengalaman. Khususnya, Joko menambahkan, bagaimana menciptakan komitmen dari multipihak terhadap upaya mitigasi terhadap deforestasi dan degradasi hutan guna perbaikan lingkungan. ”Pengalaman ini, menjadi masukan terhadap pengelolaan program Green Growth Compact untuk Pembangunan Kaltim Hijau,”kata dia.
Dari kunjungan ini, dimungkinkan terselenggaranya kunjungan balasan dari delegasi Brasil ke Indonesia. Tim dari Brasil akan mempelajari sistem perkebunan sawit dan pengusahaan hutan di Indonesia serta melihat kemungkinan pemberian kuliah umum maupun pembelajaran terhadap CAR/ LAR untuk kegiatan di Indonesia. Fadli menambahkan, pembelajaran dari Paragominas bisa disederhanakan untuk pengelolaan-pengelolaan pada unit lebih kecil di Kalimantan Timur misalnya dalam pengelolaan perhutanan sosial, KPH maupun penyaluran kredit usaha dari lembaga keuangan perbankan yang lebih ramah lingkungan. “Bisa dibuat proyek percontohan di tingkat kabupaten misalnya,” kata Fadli mencontohkan. Joko mengatakan bahwa Unit Pelaksana Teknis Daerah Kesatuan Pengelolaan Hutan Produksi (UPTD KPHP) dan UPTD KPH Lindung dapat diusulkan untuk mengimplementasikan proyek percontohan “Pengelolaan KPH Hijau” di Kaltim. (adv)

Penulis : tnc kaltim

Editor : Michael M

Berita Terkait