Berita Headline Berita Terkini Hukum 

Beli Ponsel Pakai Upal, Pengusaha Percetakan Ditangkap Polisi

BALIKPAPAN, CAHAYAKALTIM.com—Setelah lama tak terdengar di Kalimantan Timur, kasus peredaran uang palsu (upal), kini mengemuka. Hal ini terungkap setelah Jajaran Kepolisian Resort Balikpapan belum lama ini menangkap dua pengushan percetakan yang beroperasi di Balikpapan.

Barang bukti Upal. image by echi/cahayakaltim.com

Salah satu pelaku yang ditangkap, merupakan seorang pengusaha percetakan di Kota Balikpapan berinisial AA warga Manggar, Balikpapan. Sedangkan SIP (27) warga Kota Samarinda. Keduanya di tangkap sejak Jumat (1/2/2019) lalu.

Kapolres Balkpapan AKBP Wiwin Firta mengatakan, pengungkapan kasus upal ini, berawal dari warga. Dimana, warga tersebut, yang menjadi korban transaksi jual beli ponsel di kawasan Jalan Mulawarman, Manggar, Balikpapan Timur, Balikpapan.

“Kami menangkap keduanya setelah salah satu pelaku membeli ponsel seharga Rp 3 juta. Uang yang dipakai untuk membeli barang tersebut, menggunakan uang palsu. Korban melapor setelah mengecek uang pecahan Rp 100ribu tersebut yang memiliki nomor seri yang semuanya sama dan bahan yang beda,” kata Wiwin yang ditambahkan Kapolsek Balikpapan Timur, Kompol Dody Susantyoko, kepada cahayakaltim.com, Kamis (7/2/2019).

Kapolres AKBP Wiwin Firta dan Kapolsek Dody S, menunjukkan barang bukti hasil tangkapan. image by echy/cahayakaltim.com

Dari tangan tersangka, polisi menemukan barang  bukti di kediaman AA, berupa, 1 unit komputer, setrika, flashdisk, pisau cutter, 2 penggaris besi, printer, 157 lembar uang palsu pecahan Rp 100 ribu, 67 lembar kertas cetakan uang palsu dengan tiap lembar berisikan 4 uang palsu. Total uang palsu yang diamankan sekitar Rp 25 juta.

“Upal mereka cetak sendiri. Dimana setelah dicetak dan dipotong, disetrika. Kemudian diedarkan,” kata Dody.

Dari pengakuan keduanya, mereka baru pertama kali melakukan tindak kejahatan ini. Tersangka SIP dijerat pasal 245 KUHP. Sedangkan tersangka AA dijerat pasal 244 KUHP.

“Keduanya kita juntokan dengan UU Mata Uang. Ancaman hukumannya 15 tahun penjara,” tutup Wiwin. (*)

Penulis : Echi

Editor Michael M

Berita Terkait