Berita Headline Berita Terkini Bumi Etam 

Ekonomi Kaltim membaik namun terbatas

BALIKPAPAN, CAHAYAKALTIM.com — Bank Indonesia (BI) memprediksi pertumbuhan ekonomi Kalimantan Timur dalam triwulan kedua ini, terjadi perubahan atau ada perbaikan namun terbatas.

“Prosentasi pertumbuhan ekonomi di Kaltim di triwulan kedua ini terjadi perbaikan namun terbatas. Ini disebabkan adanya perbaikan harga komoditas internasional diperkirakan masih temporer, tidak bersifat fundamental,” kata Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia Balikpapan Suharman Tabrani, kepada cahayakaltim.com, Rabu (23/8/2017).

Perkiraan tersebut kata Suharman adanya relaksasi kebijakan batubara Tiongkok diperkirakan akan mengurangi impor batubara Tiongkok dan juga kebutuhan batubara India dapat dipenuhi oleh produsen domestik India sehingga mengurangi impor batubara India.

“Untuk pembiayaan pembangunan ekonomi Kaltim sendiri masih terbatas. Ini karena kebijakan efisiensi anggaran menggerus kemampuan fiskal daerah tahun 2017 dan tingginya risiko kredit Kaltimra mengakibatkan perbankan lebih selektif dalam memberikan pembiayaan sektor riil,” jelas Suharman.

Kendati demikian, lanjut Suharman, peluang akan terus meningkatnya ekonomi di Kaltim karena ekspor batubara Afsel terkonsentrasi pada permintaan dari negara-negara Afrika, pasar batubara Asia kembali terbuka bagi Indonesia.

“Ini juga akan meningkatkan investasi swasta dengan adanya rencana peningkatan kapasitas kilang minyak Refinery Unit (RU) V oleh Pertamina (Persero) Tahap I yang akan berlangsung pada tahun 2017 – 2019, serta kebijakan Permen ESDM No. 30/2016 tentang Pengelolaan Wilayah Kerja Minyak dan Gas Bumi Yang Akan Berakhir Kontrak Kerja Sama diperkirakan akan mendorong investasi di blok mahakam selama masa transisi,” ujar Suharman.

Selain itu juga, investasi swasta akan meningkat dengan munculnya beberapa pabrik kelapa sawit baru yang berstatus commisioning pada tahun 2017 dengan kapasitas total 885 ton TBS per jam sehingga kapasitas sawit Kaltim diperkirakan akan meningkat dari kapasitasitas saat ini.

Sementara itu, dari sisi peekembangan inflasi, Balikpapan hingga Juli 2017 relatif lebih terkendali dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. 3,26 %. Namun, terjadi pergeseran karakter kelompok penyumbang inflasi di Balikpapan, tekanan administered prices lebih tinggi dibandingkan volatile foods yang secara tahunan masih deflasi.

“Secara umum beberapa faktor risiko yang diwaspadai pada pertengahan TW III hingga akhir tahun ini untuk faktor resiko Volatile Food, sesuai rilis SPH sampai dengan minggu ke II mengindikasikan terjadinya perkiraan deflasi sebesar 0,21% (mtm), beberapa komoditas volatile food terus mengalami koreksi harga setelah hari raya idul fitri,” ungkap Suharman.

“Tekanan inflasi dirasakan tidak terlalu besar mengingat koreksi harga masih akan berlanjut,” tambahnya.

Sedangkan faktor resiko administrasi, Angkutan udara sudah berangsur normal namun dikarenakan terdapat Idul Adha yang bertepatan pada long weekend.

“Risiko kenaikan tarif dasar listrik masih akan ada hingga akhir tahun sebagai dampak penyesuain harga. Sedangkan risiko inflasi sub kelompok pendidikan perguruan tinggi seiring memasuki tahun ajaran baru di awal semester II 2017,” jelas Suharman.

Sistem keuangan Kaltim sendiri, terutama Balikpapan dalam penghimpunan dananya terus membaik, begitu pula dengan kinerja penghimpunan dana perbankan di Balikpapan yang mulai mengalami peningkatan sejak akhir 2016.

“Disisi penyaluran kredit, menurut penggunaan NPL Gross di Balikpapan akan meningkat hingga Juli 2017 sebesar 3,0% (yoy) setelah mengalami tren perlambatan sepanjang 2016. Namun, risiko kredit tercatat masih tinggi dengan NPL mencapai 12,5%,” kata Suharman.

Penyaluran kredit UMKM di Balikpapan juga mulai tumbuh positif dan lebih baik dibandingkan triwulan sebelumnya. Risiko kredit masih relatif stabil dengan share terhadap kredit secara umum masih pada kisaran 35%.

Sementara itu, dalam pengelolahan keuangan, BI Balikpapan menemukan uang yang diragukan keasliannya di Balikpapan jumlah uang kartal yang keluar (outflow) dari KPW BI Balikpapan sepanjang tahun 2017 (hingga Juli) tercatat lebih besar dibandingkan jumlah uang masuk (inflow) dengan angka net outflow sebesar Rp801,4 miliar, lebih tinggi dibandingkan posisi yang sama tahun 2016 yang tercatat net inflow Rp. 98,9 miliar.

“Hal ini mengindikasikan roda perekonomian di Kota Balikpapan semakin membaik. Disisi lain, jumlah temuan uang yang diragukan keasliannya meningkat dari 224 bilyet (Januari-Juli 2016) menjadi 376 (Januari-Juli 2017), yang didominasi pecahan 100.000,” tutup Suharman. (*)

Penulis : Michael M
Editor : M Mailangkay

Berita Terkait