Berita Headline Berita Terkini Hukum 

Jalankan bisnis prostitusi online, seorang wanita ditangkap polisi

BALIKPAPAN, CAHAYAKALTIM.com–Petugas Direktorat Reserse Kriminal umum Polda Kaltim, mengungkap jaringan prostitusi bertarif jutaan rupiah menggunakan media sosial WhatsApp.

Seorang tersangka berhasil diamankan petugas berinisial IN alias Ida (39) warga Manggar Balikpapan yang kesehariannya merupakan seorang pramusaji di sebuah restoran di Tenggarong, Kutai Kartanegara.

Kasubbid Penmas Polda Kaltim AKBP Yustiadi Gaib, mengatakan, pengungkapan bisnis prostitusi online ini bermula dari adanya informasi dari masyarakat yang kemudian dilakukan penyelidikan dan menemukan seorang pelaku.

“Awalnya, ada laporan dari masyarakat bahwa ada kegiatan prostitusi lewat media social atau WhatsApp. Kemudian kami langsung melakukan penyelidikan dan menemukan seorang pelaku,” kata Yustiadi, kepada cahayakaltim.com, Senin (25/9/2017).

Ida ditangkap pada Rabu 20 September 2017 di sebuah hotel di Balikpapan, ketika tim penyidik berpura-pura menjadi pemesan wanita penghibur dan meminta agar pelaku membawa langsung wanita tersebut di sebuah hotal di Balikpapan.

“Setelah dilakukan penyelidikan, kami mendapatkan identitas pelaku dan menghubunginya dengan cara menyamar menjadi pelanggan dan meminta agar wanita (korban) untuk dibawa ke sebuah Hotel di Balikpapan. pelaku menerimanya dan membawa langsung korban. Disitulah (di hotel) kami menangkap tersangka,” kata Yustiadi yang dilanjutkan Kasubdit IV Renakta Kompol Hendri Sidabutar.

Menurut Hendri, tersangka sudah setahun menjalankan bisnis prostitusi online dan berhasil menarik keuntungan rata-rata perbulannya mencapai Rp 15juta. Dimana setiap transaksi, Ida mengambil bagian sebesar Rp 500 ribu per transaksi.

“Tersangka seorang pramusaji di sebuah restoran di Tenggarong. Dia mendapatkan korban dengan cara merayu dengan iming-iming uang jutaan rupiah. Dimana tarif untuk short time tersangka meminta bayaran Rp 3,5 juta,” terang Hendri.

Sementara itu, tersangka Ida sendirinya mengaku menyesal dengan apa yang sudah dilakukannya. Namun penyesalan tersebut terlambat. Mucikari tersebut, harus menjalani ancaman hukuman maksimal 6 tahun penjara atau sesuai dengan pasal Pasal 45 jo Pasal 27 (1) UUD 19 tahun 2016 tentang Perubahan UUD Nomor 11 tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE) atau pasal 296 KUHP jo pasal 506 KUHP. (*)

Penulis : Michael M

Editor : Mailangkay M

Berita Terkait