Berita Headline Bumi Etam 

Kekeringan, warga Samarinda rebutan air bersih

SAMARINDA, cahayakaltim.com--Puluhan warga Jalan Pipit Pelita 7 RT 35, Samarinda, Kalimantan Timur, berebut air bersih. Air bersih yang menjadi rebutan mayoritas ibu rumah tangga itu merupakan bantuan dari salah dua tokoh masyarakat Samarinda, Mudiyat dan Iswandi.

Meski bantuan air bersih tiba agak siang, namun kaum ibu-ibu sudah di lokasi sejak pukul pagi. Mereka membawa jeriken, ember dan drum.

air bersihSalah satu ibu rumah tangga yang merupakan istri Ketua RT 35, Murliani, mengatakan, tidak pernah ada kiriman air bersih gratis di daerahnya, ketika pertama kalinya bantuan air bersih datang sudah pasti menjadi rebutan warga. Sebab, warga di desa tersebut benar-benar kesulitan mendapatkan air bersih saat musim kemarau.

“Sudah sebulan lebih kami betul-betul tidak ada air bersih yang bisa dikonsumsi. Kami beli air tendon yang dijual-jual itu mahal, satu tendon isi 1200 liter dihrga Rp 250 ribu. Jadi begini, kalau ada sumbangan, langsung jadi rebutan, harus diatur dengan baik agar tidak ada perselisihan,” kata Murliani.

Di Pelita 7, ada sekitar 200 KK dengan jumlah 900 jiwa. Selama dilanda kekeringan, warga Pelita 7 harus mencari air hingga ke daerah lain. Mereka mengangkut air menggunakan motor, dan membawa jeriken.

“Kami cari air ke mana-mana, kalau beli tendon mahal dan airnya itu belum tentu bersih. Ada yang mengambil air hanya dari rawa dan tetap dijual mahal. Pemerintah Samarinda sendiri pun tidak ada bantuan sama sekali. Ada dari PDAM, tapi kita sendiri yang ambil ke sana pakai motor,” ujarnya.

Murliani menuturkan, selama ini warga bersusah payah demi mendapatkan air bersih. Warga sudah tidak sanggup membeli air bersih dari tandon karena harganya yang mahal. Untuk itu dia berharap, pemerintah bisa memberi bantuan air bersih.

“Selama ini hampir tidak ada yang mau mengantar air kemari. Sebab jarak dari kota Samarinda menuju Jalan Pelita 7 sekitar 10 kilometer lebih. Jarak tempuh memakan waktu sekitar 30 menit sampai 45 menit. Jadi kami sendiri yang harus usaha. Bukan musim kemarau saja kami susah, apalagi pas kemarau seperti ini. Saya berharap, setelah Pak Mudiyat dan Pak Iswandi, pemerintah bisa mencontoh,” ujarnya.

Sementara itu, Iswandi mengatakan, pihaknya sudah menyiapkan 25 ribu liter air bersih di 10 Kecamatan se-Samarinda  untuk membantu warga yang mengalami krisis air bersih. “Selama ini banyak warga yang mengeluh sulitnya mendapatkan air. mereka harus membeli air tendon 1200 liter yang harganya hingga ratusan ribu. Jadi apa yang harus dilakukan kita petakan, kita harus bantu. Masing-masing daerah di 10 Kecamatan kebagian 25 ribu liter air bersih layak konsumsi,” jelasnya.

Berita Terkait