Berita Headline Berita Terkini Komunitas 

Menatap Balikpapan Menuju Kota Seni, Mengapa Tidak?

SEBAGAI wadah bagi kawan-kawan pengkarya seni di Balikpapan untuk mengenalkan seni dan budaya ke publik, melalui sebuah pergerakan.

Apa itu LEMARI SENI BALIKPAPAN? Ini program yang diluncurkan Forum Kreatif Usaha Sama-sama (Fokus) Kota Balikpapan, forum yang dibentuk tahun 2016 lalu, dan kini beranggotakan puluhan seniman dan pelaku industri (seni) kreatif.

Abi Ramadan Noor, Ketua Fokus Kota Balikpapan mengungkapkan LEMARI SENI BALIKPAPAN bisa dibilang reinkarnasi dari “CREATIVE ART SPACE” yang berlokasi di Jalan Satu, Kampung Timur Balikpapan. Selama lima bulan, kami mengusung nama Creative Art Space—yang kami sebut sebagai gedung kesenian swasta versi kontrakan—dan melalui sekian kegiatan dan agenda seni di sana.

Seiring lokasi baru, semangat baru, pemikiran baru, dan strategi baru, kami memilih nama “LEMARI SENI BALIKPAPAN”. Apakah Creative Art Space hilang? Sebenarnya tidak. “Creative Art Space jadi isi di dalam Lemari Seni Balikpapan,” kata Abi.

Dengan kata lain, pergerakan untuk menularkan “virus seni” yang diusung Fokus Kota Balikpapan — melalui Lemari Seni Balikpapan — nantinya semakin luas.

Dengan bangunan baru yang lebih luas dan layak, serta menampung orang lebih banyak, tentu semakin banyak agenda seni kreatif.
LEMARI SENI BALIKPAPAN yang berlokasi di Jalan Markoni Atas 47 ini menyatu dengan lini usaha sebelumnya yaitu “MEBEL JAWA”. Semakin unik dengan hadirnya kedai KOPI SAHABAT (KOPSAH) 1.0.

“Mengusung karya dan kreator lokalnya, ternyata mebel di MEBEL JAWA itu diproduksi di Balikpapan dan mempunyai kualitas internasional. Sementara, KOPSAH hadir di sana sebagai fasilitasnya,” demikian Abi menjelaskan.

Jadi, ini perpaduan antara galeri seni, usaha mebel, dan kedai kopi. Mungkin ini kolaborasi pertama yang seperti itu komposisinya di Balikpapan, bahkan juga di Kaltim. Mereka yang berminat akan seni atau mebel, bisa datang. Para penggemar kopi, juga punya pilihan lokasi ngopi baru yang nyaman di pusat kota.

“Lemari Seni Balikpapan adalah buah dari hasil pergerakan Fokus, pergerakan kami untuk semakin mengenalkan seni kepada publik Balikpapan, juga menumbuhkan apresiasi seni di tengah masyarakat. Jadi Lemari Seni bukan sekadar ruang pajang karya tapi tempat di mana ruang dan diskusi seni tumbuh,” kata Abi.

Puluhan karya, baik karya komersial (dijual) maupun karya idealis (tidak dijual) ada di Lemari Seni Balikpapan. Antara lain lukisan, instalasi, fashion, dan kerajinan tangan. Ada juga buku-buku karya penulis Balikpapan. Buku-buku pengetahuan dan majalah (dibaca di tempat), juga tak ketinggalan dipajang.

Pada Sabtu (13/10), digelar beberapa acara seperti diskusi seni pukul 16.00 Wita, yang menghadirkan beberapa narasumber antara lain Abi Ramadan Noor (Ketua Fokus Kota Balikpapan/pelukis) dan Martha Nalurita (Koordinator Tim Kurasi Lemari Seni Balikpapan).

Abi merentang lagi ke belakang, pada semangat awal kala Fokus Kota Balikpapan dibentuk tahun 2016 lalu. Fokus diwujudkan untuk memviruskan seni, serta memunculkan seniman-seniman Balikpapan agar lebih bermental penggerak. Balikpapan memerlukan itu karena kota ini belum dikenal sebagai kota seni.

Suka tidak suka, mesti diakui, bahwa sebagian masyarakat Balikpapan masih “mencari” di mana seniman-seniman di kota ini. Di samping itu, apresiasi seni juga belum tumbuh bagus. Lebih jauh dari itu, Abi merasa bahwa seniman harus lebih mendekat ke masyarakat.

Seniman, atau pekerja seni, yang sering juga diistilahkan Abi sebagai relawan kreatif, jangan hanya sebatas membuat karya. Namun mestinya memberi “warna seni”. Caranya dengan bergerak dalam ranah seni. Dan bergerak bersama, tentu lebih efektif daripada sendirian.

Tidak mudah, memang, kala bergerak. Namun selalu ada “matahari” di depan yang menunjukkan jalan. Berawal dari kedai kopi sempit, salah satu kios di Pasar Kelandasan, Fokus Balikpapan menuju ke Creative Art Space, yang bangunannya pun masih jauh dari layak sebagai ruang pajang karya seni.

Namun mimpi terus dibangun, yang dirangkai dengan keyakinan dan kemauan kuat untuk terus maju menciptakan pergerakan seni melalui cara-cara yang berbeda. Mimpi ketika masih menempati “gedung kesenian swasta versi kontrakan” di Kampung Timur, pelan-pelan terwujud melalui LEMARI SENI BALIKPAPAN.

“Lokasi sekarang, masih gedung kesenian yang milik swasta, dalam arti perorangan, namun tak lagi versi rumah kontrakan. Lemari Seni Balikpapan ini hasil kolaborasi dengan pihak yang memberi ruang dan menaruh minat tinggi pada seni. Kolaborasi yang unik, kami yakin itu,” ucap Abi.
Ibu Eny, pemilik MEBEL JAWA, menyampaikan antusiasme yang sama.

Ia memberi apreasi kepada Fokus Balikpapan yang menempuh cara sedikit berbeda dalam bergerak dan mengawali pergerakan seni.

Semakin antusias ketika mengetahui bahwa pergerakan seni kreatif oleh Fokus Balikpapan—melalui Lemari Seni Balikpapan–terdokumentasi baik dalam blog, juga medsos seperti Instagram. Bahkan aktivitas perdana di Lemari Seni Balikpapan, sudah digelar akhir September lalu, yakni ngobrol santai soal blog.
Di usia yang menginjak 2 tahun, terhitung masih balita, Fokus Kota Balikpapan sudah menghelat 5 kali pameran, dan berpartisipasi dalam sekian banyak acara seni. Dokumentasinya pun tertuang dalam sejumlah platform, seperti blog, juga Instagram.

Berpameran, berkolaborasi dengan komunitas lain, menyediakan ruang-ruang seni, dialog, hingga menerima adik-adik pelajar yang ingin melihat karya seni sekaligus berkenalan dengan senimannya. Itu adalah transfer seni, dan jadi satu tujuan Fokus Kota Balikpapan. Sebab bagaimanapun, tongkat estafet seni, di tahun mendatang, akan mereka lanjutkan.
Kami tahu dan sadar, apa yang kami lakukan ini mungkin PR yang pelik. Balikpapan telanjur dikenal sebagai kota industri dan jasa.

“Argumen-argumen seperti itu, masih ada. Namun kami meyakini bahwa ketika pergerakan seni tidak dilakukan, gairah dan apresiasi seni semakin tenggelam.
Karena itulah Lemari Seni Balikpapan hadir. Seperti namanya, lemari adalah tempat banyak barang tersimpan, dan dikeluarkan. Demikian juga Lemari Seni Balikpapan, akan menyimpan dan mengeluarkan banyak agenda pergerakan seni, nantinya.
Usai peluncuran Lemari Seni Balikpapan, disambung dengan ART DAY, yang dihelat 2 hari, pada Minggu (14/10) dan Senin (15/10),” ujar Abi

ART DAY berangkat dari gagasan Fokus untuk mewujudkan satu hari selebrasi untuk insan seni, di Balikpapan. Dan ini tidak menutup kemungkinan akan meluas. Selama dua hari itu, diadakan berbagai kegiatan, seperti seni musik, visual art berupa live graffiti, live painting, dan diskusi seni.

“ART DAY semoga bisa menjadi agenda rutin tahunan buatan sendiri, yang ditunggu-tunggu. Hari di mana banyak pengkarya seni berkumpul untuk membawa ide-ide segar untuk semakin menumbuhkan apreasi seni di Balikpapan,” kata Abi. (***)

Editor : Michael M