Menelusuri Kriminolog dari masa ke masa

KRIMINOLOGI merupakan salah satu keilmuan yang memiliki bidang kajian tersendiri. Kriminologi menjadi penting untuk dikaji dan dipahami, sehingga ia dapat membantu terhadap penyelesaian kejahatan yang tidak dapat dipungkiri keberadaannya, apalagi di tengah-tengah berkecamuknya persoalan ekonomi yang semakin kompleks sekarang ini.

Sebagaimana dapat dilihat dari definisi kriminologi yaitu sebagai sekumpulan ilmu pengetahuan tentang kejahatan yang bertujuan untuk memperoleh pengetahuan dan pengertian tentang gejala kejahatan dengan jalan mempelajari dan menganalisa secara ilmiah, keterangan-keterangan, keseragaman-keseragaman, pola-pola dan faktor-faktor kausal yang berhubungan dengan kejahatan, pelaku kejahatan, serta reaksi masyarakat terhadap keduanya (Wolfgang, Savitz, Johnston).

Kriminologi akan menjadi sebuah kejanggalan tersendiri apabila keberadaan kriminologi hanya dipahami dan dipelajari dari aspek definisi atau teori-teorinya saja, tanpa melihat proses atau cikal bakal tumbuhnya kriminologi. karena dengan  kriminologi lebih luas lagi.

Dengan demikian, sejarah kriminologi merupakan dasar dalam membangun sebuah bangunan keilmuan kriminologi yang harus dipenuhi, sehingga tanpa mengetahui sejarahnya, bagai bangunan tanpa dasar atau fondasi.

Dari aspek sejarah inilah, seseorang dapat berkaca sesuai dengan adagium All-Muhafadhait, Ala al-Qadim ash-Shalih Wa al-Akhzu Bi al-Jadid al-Ashlah, seorang kriminolog atau seorang yang belajar kriminologi dituntut mengambil hikmah dari masa lalu, sehingga pemahamanya akan semakin kafah (utuh).

 

Sejarah Perkembangan Kriminologi

1. Masa Kuno

Sekalipun zaman sekarang ini sudah banyak pengetahuan yang berkembang, tetapi kaitannya dengan kriminologi belum mendapat perhatian secara sistematis dari kalangan intelektual pada waktu itu, tetapi terdapat sebuah catatan lepas untuk mengidentifikasi kriminologi pada masa itu. Pasalnya catatan itu membahas tentang kejahatan Causes Economiques De La Criminalite yang ditulis oleh Van Kan tahun 1903.

Catatan ini menjelaskan hasil penelitian ahli tentang sebab-sebab kejahatan. Buku tersebut membahas dengan orientasi Sosiologi Kriminal. Penglihatan secara Kacamata Antropologi Kriminal belum memuaskan walaupun telah dicoba oleh G. Antonni dalam Karyanya I Preccursori di Lambroso tahun 1909. Walaupun sebelumnya Plato (sebagai filosof Yunani) telah menyebutkan bahwa sumber dari kejahatan adalah emas, manusia, yang ditulis dalam bukunya Republiek.

2. Masa Pra 1830

Plato menyebutkan emas dan manusia adalah sebab adanya kejahatan, makin tinggi pandangan tentang kekayaan oleh manusia, makin merosot penghargaan kesusilaan, sehingga apabila dalam setiap negara banyak terdapat orang miskin, maka akan terdapat bajingan-bajingan, pemerkosaan agama, dan penjahat dari berbagi  corak.

Antisipasinya, Plato mengatakan bahwa, adanya rasa  komunal dalam suatu masyarakat anggotanya akan berbuat sama dalam hal kebaikan, sehingga yang miskin dan kaya tidak akan ditemui ketakaburan, kezaliman dan rasa iri hati serta benci (pandangan Utopis).

Selain itu dari pernyataan-pernyataan Aristoteles (384-322 s.M.)seperti kemiskinan menimbulkan Kejahatan dan pemberontakan (Politiek II 3,7). Kejahatan yang besar tidak diperbuat untuk memperoleh apa yang diperlukan dalam hidup, tetapi untuk kemewaan (ibidem II 4,9). Seorang ahi kriminologi bernama Bonger menyimpulkan uraian akhir tersebut terpengaruh dalam lapangan hukum yaitu hukuman ditujukan bukan karena telah berbuat jahat, tetapi agar jangan berbuat jahat terulang lagi, untuk itu dibuat kejeraan (kapok).

3. Masa Abad Pertengahan

Van Kan yang memberi saham dalam merintis pertumbuhan kriminologi dengan orientasi Sosiologi Kriminal mengemukakan pendapat ahli zaman itu yakni Thomas Van Aquino  nengatakan bahwa kejahatan hanya berkurang bila ada perbaikan hidup.

Aquino (1226-1274), bahwa kemiskinan dapat menimbulkan kejahatan, sedang orang kaya yang hidup bermewah-mewahan akan menjadi pencuri bila jatuh miskin. Dan kemiskinan biasanya memberi dorongan untuk mencuri.

Yang menarik perhatian dari pernyataan ini adalah Summa Theologica membenarkan boleh mencuri bila keadaan memaksa kejahatan dengan masyarakat. Ahli hukum ini mengarang sebuah roman sosialistis bersifat otopis (1516). Mereka mengkritik Pemerintah Inggris yang menghukum penjahat   terlalu keras serta mengatakan bahwa kejahatan berkurang bila ada perbaikan hidup, bukan karena hukuman yang keras. Mengecam susunan hukum pidana dimana berlaku hukuman mati untuk pencurian, tetapi setuju bahwa penjahat harus menebus dosanya.

4. Masa permulaan Sejarah Baru (abad ke 16) Zaman Ancien Regime

Dalam sejarah dunia, pertama yang melihat kejahatan dalam hubungannya dengan masyarakat dan mencari sebab musababnya dalam masyarakat adalah Thomas More, ahli hukum humanistis Inggris, yang disebut sebagai aliran Kriminologi Klasik, karena pada zaman itu kajahatan dipandang dalam hubungannya dengan masyarakat.

Pemikiran yang dikenal pada zaman itu adalah Thomas More (1478-1535). Dia berpendapat bahwa arus kejahatan tidak akan berhenti jika hanya dikenakan hukuman yang berat, tanpa mencari dan mengatasi sebab-sebab kejahatannya, meskipun demikian kajian More ini lebih menitik beratkan pada aspek ekonomi bukan sebab-sebab kejahatan secara luas.

Thomas More dalam bukunya ‘UTOPIA (1516)’ menguraikan banyak hal yang digeneralisir menjadi 2 hal besar tentang sebab-sebab kejahatan di Inggris pada saat itu kenapa  tidak mampu mencukupi kebutuhan hidupnya? Peperangan dan Pertanian yg gagal panen, Hukuman yang terlalu berat dapat menyebabkan resiko munculnya kejahatan.

5.  Masa Abad ke XVIII Hingga Revolusi Perancis

Pada abad ini mulai terdapat penentangan terhadap hukum pidana. Hukum pidana sebelumnya ditujukan untuk menakuti dengan penjatuhan hukuman penganiayaan yang menjerakan. Pribadi penjahat tidak mendapat perhatian sehingga hukum acara pidana bersifat

Pembuktian tergantung dari kemaun si pemeriksa dan pengakuan si tersangka . Keadaan ini mengundang reaksi, reaksi terhadap ancientregime mempengaruhi hukum dan hukum acara pidana. Keadaan ini disokong dengan timbulnya Aufklarung. Mulai pidana. hukum dan  Hak Azasi manusia diberlakukan  untuk si penjahat dan rasa yang berkeadilan.

6. Hubungan Kriminologi Hingga Masa sekarang

Pasca revolusi pada akhir abad ke XIX kriminologi Konvensional dianggap ilmu pengetahuan tersendi di Eropa dan Amerika Serikat. Para pelopornya adalah Lombroso, Ferri dan Von Liszzt.

Kriminologi  ditujukan untuk memahami penjahat secara rasional dan obyektif. Berdasarkan penelitiannya Lombroso memperkenalkan teori bahwa penjahat dapat dikenal dari bentuk badan yang dibawa sejak lahir.

Teori ini tidak mengandung kebenaran, sehingga menimbulkan reaksi. Ferri memperbaiki teori ini dengan mengkompromikan dengan teori Lacas Sagne, Von Liszt sependapat dengan teori dan menyarankan agar pendapat baru kriminologi ini diperhatikan dalam hukum pidana.

Hal ini merupakan aliran baru dalam hukum pidana mulai saat itu kriminologi menjadi pengetahuan yang membantu hukum pidana. Karena merupakan aliran baru hukum pidana menganut aliran baru kriminologi, lalu berpendapat bakat serta lingkungan tidak perlu diperhatikan dalam menjatuhkan hukuman.

Ini berarti meminta petugas pelaksanaan hukuman pidana mempertimbangkan lingkungan dan bakat petindak sebelum menjatuhkan hukuman. Aliran baru ini menentang aliran konvensional  hukum pidana  yang berpendapat tidakan pelanggar hukum timbul dari keinginan sendiri setelah memperhitungkan untung ruginya, makanya cukup mempelajari tindakannya saja tanpa memperhatikan diri petindak dan hukuman wajar.

 

 

Kejahatan dalam perspektif Yuridis

Menurut para sarjana yang menganut aliran di atas menyatakan bahwa, sasaran perhatian yang layak bagi kriminologi adalah mereka yang diputuskan oleh pengadilan pidana sebagai penjahat oleh karena kejahatan yang dilakukannya.

Sutherland menekankan bahwa, ciri pokok dari kejahatan adalah perilaku yang dilarang oleh negara karena merupakan perbuatan yang merugikan negara dan merupakan perbuatan itu negara bereaksi dengan hukuman sebagai upaya pamungka (ultimum remedium=senjata pamungkas).

Dalam pengertian yuridis membatasi kajahatan sebagai perbuatan yang telah ditetapkan oleh negara sebagai kejahatan dalam hukum pidananya dan diancam dengan suatu sanksi.

Sementara penjahat merupakan para pelaku pelanggar hukum pidana tersebut dan telah diputus oleh pengadilan atas perbuatannya yang dilakukan . Penetapan aturan dalam hukum pidana itu merupakan gambaran  dari reaksi negative masyarakat atas suatu kejahatan yang mewakili oleh para pembenruk undang-undang pidana.

Bonger menyatakan bahwa, kejahatan merupakan perbuatan anti sosial yang secara sadar mendapat reaksi dari negara berupa pemberian derita dan kemudian sebagai reaksi terhadap rumusan-rumusan hukum (legal definisions) .

Alasan diterimanya definisi yuridis tentang kejahatan ini oleh Hasskel dan Yabionsky adalah :

  • Statistik kejahatan berasal dari pelanggaran-pelanggaran hukum yang diketahui oleh polisi, yang dipertegas dalam catatan-catatan penahanan atau peradilan serta data-data yang diperoleh dari seseorang yang berada dari dalam penjara atau lapas. Perilaku yang tidak normative atau perilaku anti sosial yang tidak melanggar hukum,
  • Tidak ada kesepakatan umum mengenai apa yang dimaksud perilaku sosial
  • tidak ada kesepakatan umum mengenai norma-norma yang pelanggarannya merupakan perilaku non normatif dengan suatu sifat kejahatan (kecuali bagi hukum pidana)
  • hukum menyediakan perlindungan bagi stigmatisasi yang tidak adil, adalah suatu kesalahan apabila meninggalkan hal ini dalam rangka membuat pengartian kejahatan menjadi lebih inklusif
  • para sarjana yang menganut aliran non yuridis atau dikenal sebagai aliran sosiologis

Golongan ke dua ini merupakan para sarjana yang tidak menyetujui pembatasan definisi kejahatan dalam pengertian yuridis tersebut. Meski definisi yuridis telah memberikan kepastian atas batasan perilaku mana  yang dimaksud dengan kejahatan dan penjahat, namun definisi tersebut sama sekali tidak memuaskan para sarjana kriminologi karena sifatnya yang statis,  alias tidak sesuai dengan dinamika masyarakat.

Thorsten Sellin berpendapat,  bahwa pemberian batasan definisi kejahatan secara yuridis itu tidak memenuhi tuntutan-tuntutan keilmuan. Suatu dasar yang lebih baik bagi perkembangan kategori-kategori ilmiah manurutnya adalah dengan memberikan dasar yang lebih baik dengan mempelajari norma-norma kelakuan, karena  konsep norma-norma perilaku yang mencakup setiap kelompok atau lembaga seperti negara serta merupakan ciptaan kelompok-kelompok normatif manapun, serta tidak terulang oleh batasan-batasan politik dan tidak selalu harus sekandung dalam hukum.

Penutup

Secara historis dari masa ke masa pertumbuhan kriminologi dimulai sejak zaman Yunani Kuno yang dipelopori oleh beberapa filosof. Seperti Plato, Aristoteles dan lain-lain yang dibagi menjadi zaman Kuno, Abad pertengahan, permulaan sejarah baru (abad ke XVI), abad ke ke XVIII, hingga revolusi Perancis, dan masa sekarang.

Pada abad zaman kuno kriminologi dapat dibaca dari catatan yang ditulis oleh Van Kan tahun 1903, Plato dan lain-lain. Sedang abad pertengahan adalah Van Kan yang berjasa, yang diikuti oleh Thomas Van Aquino (1226-1274) selanjutnya dipelopori oleh Thomas More, Montesquieu untuk abad ke XVIII dan seterusnya.

Dilihat dari aspek hukum pidana  adalah,  setiap perbuatan atau kelalian yang dilarang oleh hukum publik untuk melindungi masyarakat yang  diberi pidana oleh negara. Membatasi kejahatan sebagai perbuatan yang telah ditetapkan oleh negara sebagai kejahatan  dalam koridor hukum pidananya dan diancam dengan suatu sanksi .

Sementara penjahat merupakan perilaku pelanggar hukum pidana  yang telah diputus oleh pengadilan atas perbuatannya tersebut. Penetapan aturan dalam hukum pidana itu merupakan gambaran dari reaksi negative masyarakat atas suatu kejahatan yang diwakili oleh para pembentuk undang-undang pidana. (*)

Oleh : Dr.Susilo Handoyo,SH,M.Hum (Dosen Universitas Balikpapan)

Daftar Pustaka    

http:// rabbaniyah.blogspot.co.id/2011/Sejarah perkembangan kriminologi.html Topo

Santoso  Kriminologi, http://www.google.com,pdf+sejarah+kriminologi&source diunduh pada tanggal 8 Mei 2017

B.Simanjuntakm Pengantar Kriminologi dan Patologi sosial , Bandung, Tarsito, 1980

Mr.WA.Bonger, Pengantar tentang Kriminologi, Jakarta, PT .Pembanguan, 1970

https://aryzdlum wordpress,com/2012/04/21/kriminologi/

 

 

 

Berita Terkait