Berita Headline Berita Terkini Pendidikan 

Merangsang dunia sains sejak dini, Kalbe Farma gelar pelatihan sains

BALIKPAPAN, CAHAYAKALTIM.com–Praktisi sains Indonesia, Abdullah Muzi Marpaung mengakui kompetisi prestasi antar anak anak sekolah di Indonesia sudah diluar kewajaran. Orang tua menuntut prestasi anak anaknya tanpa mempertimbangkan proses belajar mengajar yang harus dilewati setiap murid.

“Harus kita akui, orang tua hanya menuntut hasil akhir saja. Mereka tidak memberikan kesempatan anak agar menikmati proses belajar mengajar ini,” papar Dosen Swiss German University ini.

Abdullah beranggapan, orang tua dan guru seharusnya mampu membangun suasana nyaman serta merangsang kreatifitas siswa. Menurutnya, anak anak sejak dini harus dibiasakan membangun logika berpikirnya dengan berbagai penelitian sains sederhana.

“Mereka harus diberikan tantangan dengan penelitian sains sederhana. Contohnya bagaimana pertumbuhan kecambah dari biji hingga bertumbuh setelah terkena air. Contoh contoh penelitian sederhana sangat banyak untuk diperkenalkan,” paparnya.

Sistim pendidikan seperti ini, kata Abdullah, menciptakan anak anak yang kreatif berpikir dalam menyelesaikan permasalahan dihadapinya. Mereka akan terbiasa mengembangkan logika berpikir guna mengembangkan ilmu pengetahuan sedang dipelajarinya.

Abdullah mengatakan, pemerintah punya tugas menyusun kurikulum yang merangsang siswa agar mengembangkan pola pikir kreatifnya. Dunia pendidikan Indonesia terbilang minim dalam mendorong terlaksananya lomba lomba karya ilmiah di jenjang pendidikan dasar hingga universitas.

PT Kalbe Farma (Tbk) berinisiatif menggelar pelatihan sains pada sejumlah guru guru sekolah dasar di Balikpapan dan sekitarnya. Momentun ini juga dipergunakan untuk mensosialisasikan kompetisi sains Kalbe Junior Scientist Award 2017 bertema Memecahkan Masalah Kreatif Dengan Science.

“Ini merupakan kompetisi sains anak nasional untuk memberikan penghargaan kepada karya ilmiah siswa sekolah dasar dan menengah pertama,” kata Humas Kalbe, Hari Nugroho.

Hari mengatakan, ajang kompetisi karya ilmiah diharapkan mampu membuat siswa siswa Indonesia mencintai teknologi dan sains. Mereka ini nantinya menjadi tunas tunas peneliti unggul yang memajukan dunia sains dan teknologi Indonesia.

“Kami selenggarakan sejak tahun 2011 hingga sekarang. Animo peserta terus meningkat setiap tahunnya, tahun 2016 ada 917 karya ilmiah sedangkan 2015 terdapat 811 karya ilmiah,” ungkapnya.

Hari mengakui, karya ilmiah ini masih mentah serta perlu kemasan yang manis menuju pintu komersialisasi. Namun demikian, dia memastikan anak anak Indonesia mampu menghasilkan karya inovatif yang punya nilai ekonomis di masa depan.

Hari mencontohkan karya ilmiah salah seorang finalis yakni alat pemetik buah mangga yang menjadi juara Kalbe Junior Scienist 2016 lalu. Karya ilmiah ini memperoleh skor penilaian tertinggi berdasarkan ketentuan originalitas, latar belakang masalah, solusi diberikan, inovasi dan manfaatnya bagi masyarakat luas.

“Idenya sederhana membuat alat pemetik buah sederhana yang dilengkapi pisau untuk memotong ranting pohon,” jelasnya.

Dewan juri akan memilih 18 finalis lomba agar  mempresentasikan hasil karyanya di Kantor Kalbe Farma di Jakarta. Sebanyak 9 karya ilmiah akan ditetapkan sebagai pemenang kompetisi sains Kalbe Junior Scientist Award 2017.

“Kami akan mematenkan hasil karya ilmiah milik seluruh finalis dalam kompetisi ini,” ujar Hari.

Penulis : Gunawan

Editor : M Maliangkay

 

Berita Terkait