Berita Headline Berita Terkini Hukum 

Oknum Polisi Kubar aniaya Valentino Rosi dalam Sekolah. Komnas PA : harus diproses hukum

BALIKPAPAN, CAHAYAKALTIM.com—Tindakan anarkis yang diduga dilakukan oleh oknum kepolisian terhadap anak masih saja terjadi. Apalagi penganiayaan tersebut dilakukan di dalam lingkungan sekolah yang merupakan kawasan zona aman dari kekerasan.

Peristiwa kekerasan anak tersebut, terjadi sebulan yang lalu, atau pada Rabu tanggal 22 Maret 2017 di dalam kelas 3C SDN 002 Sekolaq Darat, Kubar. Dimana salah satu murid bernama Valentino Rosi dianiaya oleh oknum polisi yang bertugas di Satuan Sabara Polres Kubar berinisial Hus.

Kasus kekerasan anak ini didampingi sebuah gerakan Save Our Sister (SOS) Kubar ini, sudah dilaporkan ke Komisi Nasional Perlindungan Anak (Komnas PA).

“Kasus kekerasan terhadap Valentino ini baru kami terima laporannya lewat komunitas yang peduli terhadap anak di Kaltim. Kekerasan yang melibatkan aparat hukum seperti ini seharusnya tidak lagi terjadi apalagi kejadiannya di kawasan aman yang steril terhadap kekerasan. Ini harus diproses hukum,” kata Ketua Komnas PA Arist Merdeka Sirait, kepada cahayakaltim.com, saat berada di Hotel Platinum Balikpapan, Minggu (23/4/2017).

Komnas PA sendiri, kata Arist, dalam merespon laporan kekerasan terhadap anak yang dilakukan oleh aparat penegak hukum, tidak toleran dengan kejadian ini, apalagi dilakukan di kawasan zona aman atau di dalam sekolah.

“Seharusnya polisi harus melakukan perlindungan terhadap masyarakat apalagi anak, namun yang terjadi tindakan kekerasan. Oleh karena itu Komnas PA tak ada toleran dengan kejadian ini dan Komnas PA akan berkoordinasi dengan Polres Kubar. Intinya tak ada alasan pihak kepolisian untuk membiarkan penanganan kasus ini,” tegas Arist.

Sementara itu, menurut Koordinator SOS Kubar Christine Paren, mengungkapkan, kasus penganiayaan terhadap pelajar yang masih SD oleh oknum polisi ini, awalnya sudah dilakukan proses damai antara polisi dan orang tua korban, namun musyawarah tersebut tidak mendapatkan titik terang sehingga pada tanggal 24 Maret 2017, dilaporkan ke Propam Polres Kubar.

“Proses damai sudah dilakukan namun gagal lalu dilaporkan, namun sampai saat ini, belum ada kejelasan proses hukum oknum tersebut. Sehingga membuat orang tua korban khawatir, apalagi oknum polisi tersebut sering melintas di rumah korban,” kata Christine, kepada cahayakaltim.com, usai menyerahkan laporan tertulis ke Ketua Komnas PA, di Hotel Platinum Balikpapan, Minggu (23/4/2017).

 

Penyidik kekurangan alat bukti

Kapolres Kubar, Ajudan Komisaris Besar Polisi (AKBP) Pramuja Sigit Wahono, mengatakan, kasus kekerasan anak yang diduga dilakukan anak buahnya ini sedang dalam pengembangan penyelidikan dan sudah berkoordinasi dengan Propam Polda Kaltim.

“Kasusnya sedang kami tangani. Dan saat ini kami masih menunggu saran hukum dalam penanganan kasus yang melibatkan anggota di Propam polda Kaltim. Jadi masih dalam pengembangan,” kata Kapolres Pramuja melalui via telepon, Minggu (23/4/2017).

Selain menunggu jawaban dari Polda Kaltim, kata Pramuja, kasus kekerasan terhadap Valentino Rosi ini, terkendala alat bukti pendukung. Sehingga sedikit menyulitkan proses penyelidikan.

“Kendala kami dalam penanganan kasus ini adalah bukti. Agak kesulitan mendapatkan saksi dalam,” ucap Kapolres Pramuja.

Kronologis penganiayaan

Penganiayaan terhadap anak yang dilakukan oknum Polisi berinisial Hus tersebut, terjadi ketika Valentino beserta teman sekelasnya sedang mengikuti proses belajar mengajar di dalam kelas 3 C. Saat itu sedang belajar tentang pelajaran Matematika, di SDN 009 Sekolaq Darat Kubar.

Ketika itu, guru sedang tak ada di dalam kelas atau izin tak masuk mengajar. Saat itu, Valentino sedang mengerjakan tugas matematika bersama dua temannya yakni berinisial Tir dan Nur. Diwaktu bersamaan datanglah teman sekelas lain berinisial Put.

Kedatangan Put, ditanggapi candaan sambil dorong-dorongan dan membuat Put menangis. Put yang merasa kesal langsung menelpon ayahnya. Tak berapa lama, ayah Put datang dengan menggunakan seragam lengkap Polri dan menanyakan siapa yang menyakiti anaknya.

Valentino yang masih lugu, spontan acungkan tangan memberitahu kalau dia yang menyakiti Put dan oknum tersebut langsung menghampiri Valentino dan tanpa banyak bicara langsung member satu pukulan kearah dada kanan Valentino yang membuat dadanya luka lebam membiru.

Menurut Christin, sebelum dianiaya, Valentino sudah meminta maaf kepada petugas tersebut.

“Sudah ada upaya damai yang dimediasi oleh Provost Polres Kubar, namun tak mendapat titik terang. Jadi pihak keluarga korban melaporkan kasus ini ke upaya hukum,” kata Christin.

Atas kejadian ini, menurut Christin, korban menjadi trauma dan merasa ketakutan untuk ke sekolah. Dan kalaupun ke sekolah, korban harus didampingi oleh orang tua.

“Kejadian ini membuat korban trauma dan harus didampingi kalau ke sekolah. Untuk itulah kami meminta kepada pihak kepolisian agar lebih proaktif dan terbuka dalam menangani tindakan kekerasan anak maupun lainnya yang melibatkan oknum kepolisian sendiri di wilayah Kubar,” imbah Christin.

Berita Terkait