Berita Terkini News Opini 

Penting Gelar Operasi Kendaraan?

UMUMNYA masyarakat pengguna jalan merasa terganggu ketika petugas kepolisian menggelar operasi lalu lintas. Bahkan beberapa pengendara kendaraan berpersepsi negatif kegiatan tersebut. Yang lebih parah lagi, ada pengendara kendaraan yang marah ketika kendaraannya dihentikan.

Era teknologi terkini yang berkembang pesat sekarang ini, hampir dipastikan semua pengendara kendaraan memiliki telepon genggam yang canggih. Dilengkapi kamera yang bisa secara langsung menyiarkan di jejaring social. Tak heran, banyak yang menjadi viral di media sosial tentang ulah pengendara yang marah ketika berurusan dengan petugas yang menggunakan rompi hijau muda.

Seiring dengan perkembangan teknologi yang semakin canggih dan juga pertumbuhan kendaraan baik roda dua maupun roda empat itu juga menjadi semakin rawan terjadi kecelakaan. Selain itu juga cukup membuka peluang para pelaku pencurian kendaraan bermotor untuk lebih leluasa beraksi.

Sebagai masyarakat yang taat akan aturan hukum, tentu kita tak perlu khawatir bila polisi secara rutin menggelar razia kendaraan. Namun berbeda dengan pengendara yang tak taat akan aturan berlalu lintas. Melihat petugas saja langsung gugup dan bertingkah kaku. Padahal belum tentu akan ditilang.

Seorang petugas polisi lalu lintas yang sedang melakukan tugas, tentu sudah paham akan aturan. Dan polisi juga tahu prosedur dalam bertindak. Polisi juga manusia biasa yang memiliki hati nurani.

Mengendarai sepeda motor tanpa menggunakan helm masih banyak dijumpai. Padahal, ketika terjadi kecelakan pasti mereka sendiri yang rugi. Sikap membangkan, sepertinya sudah menjadi kebiasaan masyarakat, tidak terkecuali di daerah ini.

Bukan hanya itu, saat berkendara juga jarang melengkapi surat-surat kendaraan. Padahal, itu juga penting sebagai identitas, ketika terjadi apa-apa di jalan. Sehingga memang, penegakkan aturan berlalu lintas sangat dibutuhkan.

image by tribun kaltim

Semakin bertambah jengkel ketika banyak kendaraan yang ditilang, sehingga harus mengantri cukup lama. Tidak cukup sampai disitu, salau surat kendaraan lengkap (SIM dan STNK) tidak menjadi masalah.

Lain halnya jika tidak lengkap atau lupa di rumah, atau tidak memakai helm, sabuk pengaman, melanggar rambu lalu lintas dan sebagainya.

Ketidaksukaan semakin memuncak bila harus membayar tilang. Bisa jadi, ratusan ribu rupiah harus dikeluarkan dari kantong atau dompet. Sudah perjalanan tertunda, uang pun melayang.

Keselamatan

Persepsi pertama ketika berlalu lintas adalah keselamatan, keamanan dan kenyamanan. Ya, siapa juga sih yang tidak mau selamat, aman dan nyaman? Semenjak keluar rumah hingga ke tempat tujuan, selalu berusaha menjauhi bahaya saat berlalu lintas. Nah, dalam proses perjalanan itu, banyak hal ditemui.

Mulai kendaraan lain, juga akan menemui aneka perilaku para pengendara. Ada yang berjalan pelan-pelan, tetapi ada juga yang cukup mengebut. Belum lagi dengan kondisi jalan yang bisa jadi banyak lubangnya. Semuanya bisa menjurus kepada kejadian tidak mengenakkan di jalan atau kecelakaan lalu lintas.

Piranti keselamatan dirancang sedemikian rupa. Bagi pengendara sepeda motor, wajib memakai helm. Mengapa harus helm? Ya, tentu saja bagian tubuh yang sangat penting adalah otak. Bagian ini tidak bisa diganti. Waktu mengendarai sepeda motor, maka kecepatannya melebihi sepeda, terlebih jalan kaki. Sepeda motor bisa mencapai kecepatan seratus kilometer perjam, bahkan lebih.

Kendaraan tersebut cukup mempunyai peluang untuk terjadinya kecelakaan. Sebab, roda atau bannya cuma dua. Tidak ada penyangganya saat berlari di jalanan. Nah, aspek inilah yang riskan dihadapi oleh pengendara sepeda motor. Dia bisa jatuh ke sisi kiri maupun kanan kendaraan.

Lalu, jika sudah jatuh, maka peluang kepala untuk “mencium” aspal juga cukup besar. Itulah sebabnya, helm dipakai untuk mencegah kerusakan pada otak. Helm mempunyai struktur luar yang cukup keras sehingga bisa melindungi kepala dengan baik. Namun, ada syaratnya.

Helmnya harus standar, menutupi sampai kepala bagian belakang dan yang harus selalu diingat adalah dikancingkan pada talinya! Lalu, bagaimana dengan mobil? Mengapa perlu sabuk pengaman? Titik rawan pada mobil adalah ketika menabrak di depan. Entah menabrak kendaraan lain maupun benda tidak bergerak seperti tiang listrik sampai rumah penduduk.

Nah, ketika ada mobil yang menabrak, secara cepat, maka pengemudinya akan terdorong ke depan karena adanya suatu gaya gravitasi dan kinestetik. Kalau sudah terdorong ke depan, maka otomatis akan membentur dashboard. Dalam gaya gerak yang sangat tinggi, maka kepala bisa terbentur dengan sangat keras. Akibatnya bisa rusak parah.

Sabuk pengaman atau safety belt menahan kepala untuk tidak membentur dashboard maupun kemudi mobil. Keselamatan lainnya adalah pada aturan di jalan. Mengapa kita dilarang jalan ketika lampu merah dan dilarang berhenti saat lampu hijau? Itu semua ada hikmahnya. Meskipun cuma lampu-lampu berwarna merah, kuning dan hijau, tetapi itu mengandung pesan keselamatan yang sangat besar.

Ketika berada di persimpangan, semua kendaraan ingin jalan terlebih dulu. Mereka ingin segera didahulukan. Kalau semuanya ingin jalan, maka bisa jadi akan terjadi kecelakaan di tengah persimpangan. Rambu-rambu lalu lintas mengatur arus mana saja yang lebih dulu jalan dan mana yang harus berhenti.

Ketika rambu lalu lintas mati, maka akan terlihat semrawut. Seperti yang terjadi pada tanggal 7 Januari 2016, di perempatan Wuawua. Bagian selatan toko handphone dan bank swasta, sedangkan di sebelah utara, ada restoran cepat saji. Ada polisi lalu lintas di pos, tetapi membiarkan kendaraan saja lewat dan mengatur dirinya sendiri.

Seharusnya polisi lalu lintas mengatur dengan baik arus kendaraan. Kalau toh rambu lalu lintas rusak, maka tugas tersebut seyogyanya dikembalikan lagi kepada para polisi lalu lintas. Jadi, kalau ada di antara kita yang masih tidak terlalu peduli dengan keselamatan, maka operasi lalu lintas menjadi solusi yang baik. Kalau kendaraan dimiliki sudah baik dan memiliki surat-surat kendaraan lengkap, maka tidak perlu khawatir dengan operasi lalu lintas? Kalau tertib, maka akan lolos dari operasi tersebut.

Bila ada yang melanggar dan membayar tilang, maka anggap saja itu biaya untuk keselamatan lebih besar. Kita cuma membayar ratusan ribu rupiah. Bandingkan jika sampai mengalami kecelakaan lalu lintas, maka kerugian diderita akan sangat besar. Sudah rugi uang, badan dan waktu bekerja. Bahkan, kalau parah, bisa sampai cacat.

Oleh karena itu, tetap berpikir positif ketika kita melanggar lalu lintas dan terjaring operasi. Kalau perlu ucapkan terima kasih kepada petugas lalu lintas. Terima kasih karena sudah ditegur dan diingatkan. Sebab, ketika sudah terjadi kecelakaan, maka hanya penyesalan didapatkan. Semoga kita selalu dilindungi Tuhan Yang Maha Esa dalam setiap berlalu lintas.

Oleh : Michael Mailangkay (Jurnalis Cahayakaltim.com)

Berita Terkait