Berita Headline Berita Terkini Lingkungan 

Romeo bebas setelah 24 tahun dalam kandang

image by Yayasan BOS

SAMBOJA, CAHAYAKALTIM.com – Sejak tahun 1993 dipulangkan dari Taiwan ketika masih berumur enam tahun, Romeo saat ini bisa menghirup udara segar dan bertemu dengan beberapa pasangannya yang sebelumnya sudah bebas di Pulau pra-pelepasliaran di Samboja Lestari, Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur.

Pembebasan Romeo ini juga bertepatan dengan momentum memperingati Hari Lingkungan Hidup Sedunia 5 Juni 2017.

Dr. Ir. Jamartin Sihite, CEO Yayasan BOS mengatakan, Yayasan Penyelamatan Orangutan Borneo memberikan kebebasan bagi seorang orangutan jantan bernama Romeo untuk hidup di pulau pra-pelepasliaran di Samboja Lestari.

“Pulau pra-pelepasliaran di Samboja Lestari saat ini ada tujuh buah, dengan empat pulau tambahan tengah dibangun. Kapasitas total tujuh pulau tersebut sekitar 30 orangutan. Setiap orangutan yang telah lulus Sekolah Hutan, ditempatkan di salah satu pulau ini sebelum dilepasliarkan di hutan,” kata Sihite.

Di sini mereka hidup di udara terbuka sementara teknisi memantau kemajuan dan adaptasi mereka. Pulau-pulau ini juga dipergunakan untuk wilayah transisi bagi orangutan yang telah lama berada di kompleks kandang untuk mengetahui potensi mereka untuk dilepasliarkan ke hutan.

“Di Pulau 5, Romeo akan ditempatkan bersama dua betina yang telah lebih dulu dipindahkan, yaitu Fani dan Isti,” terang Sihite.

Romeo adalah salah satu orangutan yang tertua di Samboja Lestari. Pada tahun 1993, Romeo dipulangkan dari Taiwan saat berusia 6 tahun dan sejak itu ia direhabilitasi di Samboja.

“Tahun 2017 ini bagi kami di Yayasan BOS adalah tahun #OrangutanFreedom, dan tahun ini saja kami telah lepasliarkan 13 orangutan ke Hutan Kehje Sewen di Kutai Timur. Hari ini, kami berikan kebebasan kepada satu orangutan kami yang telah lama hidup di Samboja Lestari ini, untuk hidup di alam terbuka, setelah 24 tahun mendekam di kompleks kami yang ruang geraknya terbatas. Hari ini dia pindah ke pulau pra-pelepasliaran, dan setelah kami bisa mengamati perkembangannya di lingkungan alami, kami bisa bantu siapkan dia untuk diepasliarkan ke hutan alaminya,” jelas Sihite.

Senada juga diungkapkan Ir. Sunandar Trigunajasa N, Kepala Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Timur, mengatakan, pemindahan orangutan dari fasilitas yang tertutup ke fasilitas yang lebih terbuka oleh Yayasan BOS menunjukkan tindakan nyata.

“Kita bisa melihat bahwa orangutan memang ditakdirkan hidup bebas di alam, namun mengingat status konservasi mereka yang saat ini dianggap ‘sangat terancam punah’ atau ‘critically endangered’, kita semua, termasuk saya dan jajaran Balai KSDA Kalimantan Timur harus meningkatkan upaya pelestarian orangutan dan habitatnya,” kata Sunandar.

Pemindahan Romeo dan dua betina ke pulau pra-pelepasliaran orangutan di Samboja Lestari kali ini terlaksana berkat kerja sama dengan Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Timur, serta organisasi mitra, seperti BOS Swiss, BOS Jerman, BOS Australia, dan The Great Projects. (adv)

 

Editor : Michael Mailangkay

Berita Terkait