Opini 

Siyono-Densus dan Masa Depan NKRI

Priyo SuwarnoOleh : Priyo Suwarno

(Pengamat Masalah Sosial dan Hukum)

 

 

KELUARGA dan bangsa ini dibuat sport jantung oleh kabar sepuluh anak buah kapal (ABK) Indonesia disandera oleh kawanan Abu Sayyaf. Warga sipil yang bekerja mempertaruhkan nyawa itu kemudian menjadi sandera itu dibawa ke wilayah Mindanao, Filipina selatan.

Tanggal 8 April 2016 menjadi momen bersejarah, karena para perompak itu  memasang batas waktu terakhir penebusan uang 50 juta peso sekitar Rp 15 milar. Jika uang tebusan tidak diberikan, maka para penyandera akan mengekskusi para tawanannya.

Hasilnya? Sampai tulisan ini diturunkan, memang belum ada kabar secara jelas, apakah kelompok ini langsung melakukan eksekusi terhadap sandera Indonesia atau masih memberikan tangat waktu untuk bernegosiasi. Kalau sudah begini memang sulit membedakan antara pejuang dan gerombolan perompak.

Pemerintah dan aparat keamanan terus berupaya membebaskan mereka. Kita belum tahu hasil akhirnya. Mudah-mudahan para pemimpin serta aparat keamanan kita berhasil membebaskan para saudara kita dalam kondisi sehat walafiat.

Jelas di luar negeri ada ancaman dan tantangan, di dalam negeri pun demikian. Masih banyak individu, kelompok atau gerombolan tertentu yang memanfaatkan semua kelemahan negeri ini dijadikan peluang untuk mengedepankan cita-cita dan tujuannya sendiri.

Ancaman terbesar yang masih melilit bangsa ini menyangkut SARA, narkoba dan terorisme. Dalam tulisan ini lebih difokuskan menyoroti aksi teror dan terorisme di Indonesia.Sudah begitu banyak contoh betapa bengis perbuatan terorismelakukan gerakan pembantaian.Semuanya bertujuan untuk menimbulkan korban jiwa (kebanyakan warga masyarakat umum yang tidak berdoa), tentu korban harta dan benda.Lebih dari itu, aksi teror selalu saja melahirkan anak-anak perkara lebih mendalam di kemudian hari.

Sekadar untuk membantu ingatan kita, berikut daftar beberapa serangan teror bom yang pernah terjadi di Indonesia, dari 2000- 2016 disadur dari berbagai sumber:rangkaian bomm

Mengapa contoh ini dimunculkan, karena memang sudah jelas korban nyawa yang ditimbulkan, serta menyebabkan kesengsaraan para korban serta anak cucu para pelakunya. Negara akan menjadi salah manakala muncul ancaman seperti itu kemudian tidak bertindak hanya berpangku tangan.

Polisi sebagai aparatur penegak hokum serta penjaga ketertiban berbangsa, tidak boleh kemudian lepas tangan membiarkan perilaku-perilaku kotor yang membawa korban jiwa itu dibiarkan.Harus ada penanganan secara khusus dan menyeluruh.Polri kemudian membentuk Densus-88 yang secara khusus memerangi gerakan teror dan terorsisme di Indonesia.

Ada dua moda umum yang dilakukan Densus-88 ketika melaksanakan tugas memerangi teror/ terorsime ini yaitu secara terbuka dan tertutup.Begitu banyak sepak terjang Densus-88 memerangi teror ini.

Kisah Densus-88 ketika menewaskan kelompok Dr Nurdin M Top, teroris dari Malaysia yang beroperasi di Indonesia, dan masih banyak kisah tentang penangkapan dan penyerangan terhadap terosis di negeri ini.Bahkan sampai saat ini pun, negeri ini masih terus terganggu oleh ulang kelompok Santoso yang melakukan berilya di wilayah Posos.

Untuk memerangi gangguan teroris/ terorisme ini, Densus-88 wajib berjibaku melakukan operasi terbuka dan tertutup. Mengejutkan memang, beberapa muncul beriota duka seorang pria bernama Siyono warga kampung Dukuh Brengkungan, RT 11, RW 05, Desa Pogung, Kecamatan Cawas, Kabupaten Klaten, Jateng, dibawa pulang dalam kondisi tidak bernyawa.

Siyono dikuburkan pada Ahad (13/3). Namun, kabar kematian Siyono merebak, menjadi viral di media sosial, dan topik terhangat pembicaraan di setiap daerah.Apa yang terjadi terhadap lelaki yang baru diduga sebagai teroris itu? Hanya Densus 88 yang tahu, dan Polri didesak untuk memberikan penjelasan.

Kadiv Humas Mabes Polri Irjen Anton Charliyan kemudian menjelaskan kronologi tewasnya Siyono malam itu.Menurut dia, awalnya Siyono menuruti semua perintah dari anggota di lapangan ketika dibawa untuk menemukan senjata.”Yang bersangkutan ditutup matanya, awalnya yang bersangkutan akomodatif dan kooperatif,” kata Anton, Senin (14/3).

Siyono dibawa oleh dua anggota Densus (satu sopir dan satu menjaga Siyono) untuk mencari lokasi senjata.Namun, saat tiba di satu tempat di Prambanan, Klaten, Siyono yang duduk di sebelah kanan meminta dilepaskan penutup wajah dan borgolnya.Setelah itu, kata Anton, tiba-tiba Siyono berontak.

Anton mengatakan, Siyono memukul anggota Densus 88.Keduanya kemudian berkelahi dengan tangan kosong, satu lawan satu, dalam mobil.Kejadian itu membuat kendaraan tersebut menghantam pembatas jalan.”Beruntung karena anggota punya bela diri, anggota berhasil.Yang bersangkutan terbentur kepalanya, lalu pingsan,” kata Anton.

Siyono yang pingsan, kata Anton, sempat dibawa ke rumah sakit, tapi akhirnya meninggal dunia dalam perjalanan.”Ada visumnya, ada fotonya.Sehingga terjadi perkelahian itu, yang bersangkutan mungkin tersudutkan ke salah satu dinding,” kata Anton.

Meski begitu, Anton juga menyayangkan anggota yang mengawal Siyono hanya satu orang dengan seorang sopir.”Kami juga menyayangkan, kita juga mempertanyakan.Kenapa cuma sendiri?karena yang bersangkutan (Siyono) mata ditutup dan diborgol,” kata Anton.

Banyak yang meragukan kronologi tersebut, salah satunya Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (Kontras).Sebab, selama ini penanganan bagi teroris selalu dilakukan oleh banyak petugas.Apalagi dalam SOP Densus, pengawalan minimal dilakukan oleh dua orang.Kemudian soal perkelahian dan kematian Siyono yang diduga melanggar Hak Asasi Manusia (HAM).Namun Kapolri Jenderal Badrodin Haiti menjawab.

Menuru Badrodin, perkelahian itu bisa dibuktikan dengan visum bahwa anggota Densus juga babak belur. “Di mana letak pelanggaran HAM-nya itu?Tapi, anggota itu juga babak belur,” kata Badrodin.

Badrodin juga mempersilahkan keluarga untuk melakukan autopsi ulang jika tidak percaya pada hasil dari polisi. “Ya boleh saja, silakan saja kalau memang diperlukan, maka autopsi ulang saja.”

Akhirnya memang dilaksanakan visum terhadap jenazah Siyono, hasilnya memang tidak ditemukan luka tembak pada tubuh korban.Hanya ada luka lembam di kepala bagian belakang.Aparat keamanan memang harus bertanggung jawab terhadap nyawa siapapun, termasuk nyawa Siyono.

Sebagai penegak hukum, maka kasus ini layak untuk diselidiki lebih dalam.Sekali lagi sebagai bagian upaya penegakan hokum, sehingga semuanya menjadi terang benderang.Jangan sampai ada penanganan secara semena-mena di kemudian hari.

Kasus Siyono memang menjadi pelajaran besar bagi bangsa ini terkait upaya untuk memberantas teroris dan terorisme di Indonesia.Bukan berarti kemudian petugas menjadi kendur, justru ditingkatkan upaya penanganannya dengan target semakin cepat Indonesia bisa meredam perilaku teror.

Persoalan Siyono menjadi arena besar buat bangsa ini untuk melakukan introspeksi.Mengapa di tengah-tengah kita masih ada beberapa individu dan kelompok yang melakukan aksi teror?Padahal aksi semacam ini korban bisa diri kita, istri, anak dan tetangga kita atau orang-orang lain yang sesungguhnya tidak berdosa.

Kalaulah kita semua menyadari sepenuh hati bahwa tindakan teror itu keliru dan menjadikannya sebagai common enemy (musuh bersama), maka semakin kecil dan sempit wilayah dan kesematan mereka melakukan aksi yang keliru itu.

Persoalnya memang masih ada warga, orang, dan sekelompok masyarakat yang memberikan tempat bagi aksi teror semecam ini. Jika ini terus melebar dan meluas, maka yang terjadi adalah NKRI akan terancam bubar.

Ujung-ujungnya Indonesia akan dikoyak-koyak perseteruan antar masyarakat, perpecahan dan perang di antara kita. Sungguh ini persoalan berat bagi Indonesia di masa depan, akankah negeri yang besar ini kemudian jatuh ke tangan orang-orang yang secara sengaja ingin membubarkan Indonesia.

Mari kita merenung! (*)Priyo Suwarno

Berita Terkait