Berita Headline Berita Terkini Nasional 

Timboel Siregar: Kematian Rizky Akbar, BPJS harus bertanggungjawab

Timboel SiregarJAKARTA, CAHAYAKALTIM.com–Kasus yang dialami Ananda Muhammad Rizky Akbar yang tidak mendapatkan pelayan baik dari beberapa Rumah Sakit hingga akhirnya meninggal dunia merupakan kasus berulang yang terus terjadi dan sepertinya pihak Rumah Sakit dan BPJS Kesehatan belum memperbaiki dan meningkatkan pelayanannya.

BPJS Watch menilai kejadian ini sebagai bentuk kelalaian dari RS dan BPJS Kesehatan. Hak pasien untuk mendapatkan pelayanan kesehatan yg baik ternyata tidak diberikan RS dan BPJS Kesehatan.
“Menurut Kami pihak Kemenkes harus menginvestigasi RS RS yang didatangi si pasien JKN ini karena tampak adanya ketidakseriusan dalam penanganan. Ada indikasi kuat pembiaran oleh RS kepada Ananda Rizky,” tulis Ketua BPJS Watch, Timboel Siregar, dalam rilusnya, Rabu (31/8/2016).
Lebih lanjut, Timboel menegaskan Kemenkes harus berani memberikan sanksi pada RS Harapan Kita sebagai RS Pemerintah untuk Jantung dan memiliki fasilitas kesehatan dan dokter spesialis yang mumpuni ternyata tidak memberikan pelayanan yang maksimal.
” Ini harus diinvestigasi lebih khusus oleh Kemenkes. Untuk BPJS Kesehatan, menurut kami, pihak BPJS Kesehatan harus bertanggungjawab juga atas permasalahan ini,” kata Timboel.
“Kenapa?
Ya karena, keluarga pasien peserta JKN ini mencari cari RS yang mau dan bisa menanganinya si anak tanpa mendapatkan bantuan dari BPJS hingga akhirnya si anak di bawa ke RS Eka Hospital yang tidak bekerja sama dengan BPJS kesehatan dan harus membayar secara pribadi. Ini kelalaian nyata BPJS Kesehatan untuk membantu pasien JKN dalam mencari RS yang bersedia merawat si anak,” lanjutnya.
Pelanggaran hak pasien JKN di RS dikontribusi oleh kecurangan RS dan ketidakmauan BPJS untuk membantu pasien di RS.
BPJS WATCH sudah selalu meminta agar BPJS Kesehatan membuka desk pelayanan di RS RS 7 hari 24 jam dan memiliki jaringan on line 24 jam ke seluruh RS yang menjadi provider BPJS. “Desk Pelayanan 24 jam 7 hari dan sistem on line ini akan sangat membantu pasien JKN dalam mencarikan dan mendapatkan RS yang bisa melayani pasien JKN secara langsung tanpa harus lagi pasien dan keluarganya mencari cari RS,” ucap Timboel.
Kalau sistem ini ada maka Ananda Muhammad Rizky akan bisa tertolong. Berharap dari hotline service 1 500 400 tidak akan signifikan membanisien JKN. Ini kasus merupakan perulangan yg terjadi di RS RS.
Untuk keluarga pasien, BPJS WATCH mendorong agar keluarga pasien mau menggunakan Pasal 48 – 50 UU no. 24 tahun 2011 ttg BPJS yaitu dengan mensengketakan BPJS kesehatan melalui pengadilan.
“Upaya ini adalah untuk mengingatkan BPJS agar bekerja serius membantu pasien JKN. Dan tentunya keluarga pasien juga mau mensengketakan RS RS yang telah lalai ini ke jalur hukum. Hal ini sdh kesekian kalinya terjadi dan semoga dengan upaya kekuarga mensengketakan masalah ini kasus pembiaran pasien tidak terjadi lagi.
“Kami turut berbela sungkawa, semoga Ananda Rizky diterima disisi NYA dan keluarga diberi kekuatan, dan semoga kasus ini tidak terjadi lagi,” tutup Timboel Siregar. (adv/michael mailangkay)

Berita Terkait