Balikpapan Berita Headline Berita Terkini 

UPT Pasar Klandasan Tarik Rp 5.000 perhari Bagi Pedagang

BALIKPAPAN, CAHAYAKALTIM.com–Selain pedagang yang menempati TPS (Tempat Penampungan Sementara), para pedagang lain yang belakangan mempuat suasana pasar Klandasan di Balikpapan Kota makin semerawut adalah kios kuliner di tepi laut. Kios-kios tersebut awalnya adalah PKL (Pedagang Kaki Lima) yang dulunya menggunakan gerobak atau rombong.

Diakui Kepala UPT Pasar Klandasan, Kanti Suharjo, para pedagang tersebut adalah binaan Dinas Pasar, yang kini telah dilebur menjadi Dinas Perdagangan (Disdag). Awal keberadaan pedagang kuliner ini adalah pada tahun 1999, dimana kala itu para PKL kerap dikejar-kejar untuk ditertibkan.

“Itu binaan tahun 1999 yang oleh Kepala Dinas Pasar dulu dibina, diberi tempat tapi ada batasnya di belokan sebelum Cotto Makassar. Tapi kemudian setelah ganti Kepala Dinas mereka makin banyak. Pada akhirnya mereka malah permanen disitu,” ungkap Kanti .

Padahal, yang mereka tempati adalah fasilitas umum yang harusnya bersih dari PKL. UPT Pasar Kalndasan mengaku, mengatur mereka tidak masuk dalam hitungan pendapatan daerah. “Karena merek PKL. Mereka ini binaan tapi tidak disiplin,” katanya.

Pada awalnya, sejak 1999 para pedagang tersebut hanya boleh berjualan diatas pukul 16.00 Wita, dan tidak ada yang berjualan pagi. Namun seiring berjalannya waktu, mereka malah menetap dan kini kerap berjualan sejak sebelum pukul 16.00 Wita.

Saat ditanya mengenai regulasi yang memungkinkan untuk mengatur para pedagang tersebut, dirinya hanya menjelaskan retribusi yang ditarik per hari Rp 5 ribu. Belum ada upaya selain penarikan retribusi yang juga terkesan sekedarnya.

“Ada retribusi per hari, Rp 5 ribu per petak. Tapi ada yang tidak jujur, mereka tiga petak tapi hanya bayar satu petak. Harusnya Rp 15 ribu tapi bayar Rp 5 ribu saja. Itu pun jika tidak jualan mereka tidak ditagih,” terangnya.

Penarikan retribusi Rp 5 ribu per hari juga berlaku pada pedagang yang menggunakan TPS. Jadi, jika mereka tidak berjualan tidak perlu membayar. Bahkan, ada yang seminggu hanya bayar dua atau tiga kali saja.

“Tapi itu juga ada yang kucing-kucingan. Kami tagih saat jam kerja, mereka tutup. Kan kami kerja sampai 14.30 Wita. Tapi tenyata saat kami pulang mereka baru buka sampai malam. Selain itu hari minggu kami libur, jadi tidak ditagih,” tutupnya. (*)

Penulis : Echi

Editor : Michael m

Berita Terkait