Berita Headline Berita Terkini Hukum Nasional 

Wow..! 28 juta perempuan Indonesia jadi korban kekerasan

BALIKPAPAN, CAHAYAKALTIM.com – Deputi Bidang Perlindungan Hak Perempuan Kementrian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak RI, Prof dr Vennetia R Danes Msc PhD mengatakan, angka kekerasan terhadap perempuan cenderung mengalami peningkatan dari tahun ke tahun.

“Setiap hari angka kekerasan terhadap perempuan terus bertambah. Tahun 2016 saja, tercatat sekitar 28 juta perempuan Indonesia menjadi korban kekerasan fisik maupun seksual,” kata Vennetia, Senin (29/5/2017), di Balikpapan.

Berdasarkan Survei Pengalaman Hidup Perempuan Nasional (SPHPN) Tahun 2016, Satu dari tiga perempuan usia 15-64 tahun atau sekitar 28 juta orang pernah mengalami kekerasan fisik atau kekerasan seksual.

Secara presentase didapat 18,25 % pernah mengalami kekerasan fisik dan kekerasan seksual oleh pasangannya, 31,74% pernah mengalami kekerasan fisik dan kekerasan seksual pernah/sedang memiliki pasangan, dan 42,71% pernah mengalami kekerasan fisik dan kekerasan seksual, belum pernah memiliki pasangan.

“Ironisnya sekitar 1 dari 10 perempuan  usia 15-64 tahun mengalaminya dalam 12 bulan terakhir ini,” ujar Vennetia.

Program Tree Ends (Tiga Akhiri)

Melihat kondisi melonjaknya angka kekerasan terhadap wanita Indonesia, Kementrian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Republik Indonesia mengaku membutuhkan lebih dari sekedar sinergi pemerintah yang konkrit, tetapi juga dibutuhkan dukungan dari seluruh elemen masyarakat.

Melalui program Three Ends (Tiga Akhiri) yaitu, pertama akhiri kekerasan terhadap perempuan dan anak, ke dua akhiri perdagangan orang dan yang ke tiga akhiri  kesenjangan akses ekonomi bagi perempuan.

“Ketiga agenda tersebut harus berjalan sebagaimana diharapkan, sehingga di daerah-daerah pun harus teragenda yang dilaksanakan secara terprogram, konsisten, dan berkesinambungan,” ujarnya.

Ia juga mengatakan, dibutuhkan harmonisasi upaya yang dilakukan baik oleh pemerintah pusat maupun daerah.

“Dalam mendukung suksesnya agenda Three Ends  ini, bukan saja dituntut kemampuan teknis, melainkan juga kemampuan managerial yang dapat menggerakkan potensi dan sumberdaya pembangunan di daerahnya, termasuk upaya dan kerjasama dengan private sector dan lembaga masyarakat untuk berpartisipasi aktif dalam mengatasi kesenjangan yang terjadi di daerahnya”, kata Vennetia.

Rakornis kawasan Indonesia Tengah di Balikpapan

Guna mencari solusi dan menekan angka kekerasan terhadap perempuan, Kementrian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak RI, menggelar Rapat Kordinasi Teknis (Rakornis) kawasan Indonesia Tengah yang dilaksanakan di Hotel Gran Senyiur Balikpapan, Senin (29/05/2017).

Rakornis yang berlangsung selama tiga hari ini, membahas berbagai hal, diantaranya Perlindungan Hak Perempuan dari Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT), Perlindungan Hak Perempuan dari Tindak Pedana Pedagangan Orang ( TPPO), Perlindungan Hak Perempuan Dalam Ketenagakerjaan serta Perlindungan Hak Perempuan dalam Situasi Darurat dan Kondisi Khusus.

Peserta yang hadir bukan hanya dari Kalimantan Timur saja, namun seluruh provinsi seKalimantan, Bali dan Nusa Tenggara Timur.

Setiap Provinsi hadir dalam Rakornis tersebut, seperti Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak tingkat provinsi, Divisi Perlindungan Perempuan dan Anak dari kepolisian dan Lembaga Pemasyarakatan serta berbagai instanasi terkait yang berhubungan dengan Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, mulai tingkat provinsi hingga kabupaten kota di wilayah Indonesia Tengah.

Penulis   : Alfian Tamzil

Editor : Michael M

Berita Terkait