Hiburan 

4 alasan film Jenderal Soedirman wajib di tonton

CAHAYAKALTIM.com —PERINGATAN: SPOILER ALERT! Artikel ini membincangkan adegan-adegan di film Jenderal Soedirman. Waspadai bocoran cerita di artikel ini.

Satu lagi film nasional layak tonton sedang tayang di bioskop: Jenderal Soedirman. Film ini pas banget ditonton generasi masa kini untuk tahu bagaimana perjuangan pendahulu kita mempertahankan kemerdekaan.

Jenderal Soedirman digarap Viva Westi dan didukung penuh TNI AD. Filmnya bukan jenis biopik yang menceritakan kehidupan sang panglima besar dari kecil hingga dewasa. Yang ia garap momen terpenting heroisme sang jenderal saat memutuskan bergerilya keluar-masuk hutan.

Saat pemimpin sipil ditangkap Belanda usai Agresi Militer II, Jenderal Soedirman memilih tak menyerah. Meski dalam kondisi sakit–ia sampai ditandu segala–Soedirman pantang menyerah. Pengorbanan macam begini yang rasanya tak terlihat lagi dari pemimpin masa kini. Film ini jadi pengingat kita semua, dan dengan demikian patut ditonton.

Efek CGI Saat Agresi Militer Belanda II

Agresi Militer Belanda kedua berlangsung pada 19 Desember 1948. Kala itu, Belanda yang hendak kembali menjajah Indonesia menyerang ibukota yang waktu itu berkedudukan di

Yogyakarta. Pemimpin republik seperti Sukarno, Hatta dan Sjahrir ditangkap Belanda.

Militer Belanda menyerang Pangkalan Udara Maguwo. Adegan penyerangan ke Yogyakarta digambarkan dengan baik oleh Viva Westi di Jenderal Soedirman. Ia memanfaatkan teknologi animasi komputer grafis atau CGI (computer graphic imagery). Pesawat-pesawat tempur Belanda dihadirkan Viva dalam bentuk animasi komputer–yang untuk ukuran film Indonesia–tergolong baik.

Akting Adipati Dolken Sebagai Jenderal Soedirman

Adipati Dolken kian pandai memilih peran di film layar lebar. Wajahnya yang imut dan ganteng tentu bisa jadi modal baginya untuk berakting di film-film bertema cinta remaja. Setelah puas dengan peran-peran tipikal khas remaja, Adipati mencoba karakter watak. Ia jadi Bimbim di Slank Nggak Ada Matinya serta main film epik Sang Kiai, film biografi KH Hasyim Asy’ari.

Lewat perannya sebagai Jenderal Soedirman, Adipati naik kelas satu tingkat lagi. Ia berhasil membawakan peran sang jenderal dengan baik. Walau terlihat lebih muda dan lebih ganteng dari Soedirman asli, penjiwaan Adipati tampak total.

Secuil Kisah Tan Malaka

Faktanya, menurut sejarah, Jenderal Soedirman memiliki kedekatan dengan Tan Malaka (diperankan Mathias Muchus), salah satu pendiri bangsa yang berhaluan komunis. Baik Soedirman dan Tan Malaka percaya Indonesia harus merdeka 100 persen.

Situasi kemudian membuat keduanya berpisah jalan. Soedirman memilih jalan militer dengan bersetia pada pemimpin republik (Sukarno-Hatta), sedang Tan Malaka yang berhaluan komunis memilih jalan membuat pasukan sendiri. Sejarah kemudian mencatat langkah yang dipilih Tan Malaka berujung pada kematiannya yang misterius di tangan tentara republik.

Di zaman Orde Baru, secuil kisah Tan Malaka ini takkan mungkin bisa muncul di film. Tapi di Jenderal Soedirman kisahnya muncul–walau mungkin bakal memicu kontroversi bagi pengagumnya maupun sejarawan. Hal ini memberi pembelajaran tersendiri bagi kita, generasi penerus, untuk belajar dari sejarah meskipun pahit.

Kisah Patriotisme Karsani

Di antara yang ikut bergerilya dengan Jenderal Soedirman tersebutlah seorang pejuang bernama Karsani (diperankan Gogot Suryanto). Perawakannya ndeso, kurus kerempeng dan kulitnya hitam. Semula, ia berprofesi sebagai pencuri amatir di pasar. Tapi kemudian bergabung dengan pejuang republik dan ikut serta dalam gerilya Jenderal Soedirman.

Karsani tokoh fiktif, sebetulnya. Tapi karakternya menonjol di film ini. Padanya kita bisa bercermin bagaimana patriotisme bela negara harus dibayar mahal dengan nyawa. Momen kematiannya di tangan Belanda jadi salah satu adegan mengharukan film ini. (liputan6)

Berita Terkait