Angkringan makin bermunculan di Balikpapan

image(2)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Balikpapan, Cahayakaltim.com — Empat tahun terakhir, warung angkringan mulai bermunculan di Kota Balikpapan, Kalimantan Timur. Setidaknya kini terpantau 20-an warung angkringan di Kota Minyak ini, dan secara perlahan menjadi alternatif tempat nongkrong warga, terutama anak-anak muda, pada malam hari.

Menu utama angkringan adalah minuman teh dan nasi kucing (nasi bungkus ukuran kecil). Teh dan nasi kucing ini cocok dipadu aneka gorengan seperti tahu, tempe mendoan, dan bakwan. Juga sate telur burung puyuh, tempe dan tahu bacem, serta kepala ayam dan cakar ayam yang dibacem.

Di Kota Minyak ini, warung angkringan betebaran di seluruh penjuru, antara lain Jalan MT Haryono, Sepinggan, Sungai Ampal, dan Batu Ampar. Semuanya berkonsep lesehan, yakni juga menyediakan tikar untuk tempat duduk.

Salah satu warung angkringan yang laris, yakni Angkringan Lek Jon. Angkringan ini berlokasi di Jalan MT Haryono, tepatnya di seberang Hotel Sejati. Marwan, lelaki bertubuh gempal, menjalankan usaha ini sejak 1,5 tahun lalu. Merantau dari Solo, Jawa Tengah, Marwan yang kemudian malah sering dipanggil Lek Jhon ini memberanikan datang ke Balikpapan untuk membuka angkringan.

Selepas maghrib, angkringan Lek Jhon biasanya mulai ramai. Namun menjelang tengah malam, kadang lebih ramai. Teh nasgitel, alias panas-legi-kentel (panas, manis, kental), menjadi menu terfavorit. “Teh di angkringan itu harus enak,” kata Lek Jhon yang sering memutar lagu-lagu jadul, terutama Koes Plus ini.

Yoseph Prasetya , warga Balikpapan mengutarakan, yang dicari dari warung angkringan adalah teh. Baru kemudian menu lain seperti gorengan. Menurut dia, di Balikpapan, susah mencari warung yang menyajikan cita rasa teh sesuai selera. Bahkan, tidak semua angkringan bisa membuat teh yang nasgitel.

“Satu lagi, teh nasgitel juga mesti ada sepet-nya dalam rasa. Kombinasi panas, legi, kental, sepet itulah, yang susah saya temui di warung makan di Balikpapan. Jika ingin minum teh di warung makan, saya mendingan ambil saja teh kemasan botol yang setidaknya rasanya sesuai selera,” kata Prasetya yang ditemui di Angkringan Lek Jhon.

Dalam seminggu, minimal Prasetya sekali “ngangkring” dengan tujuan utama menyeruput teh. Terkadang dia mengajak kawannya, atau teman sepekerjaan. Salah satunya adalah Boni, warga Perumahan Poka, Balikpapan. “Kalau menyeruput teh yang nasgitel begini, serasa ngangkring di Yogyakarta, hahaha,” ujar Boni.

Seingat Prasetya, angkringan pertama di Balikpapan muncul tahun 2012, berlokasi di daerah Sepinggan, tak lebih satu km dari Bandara Sepinggan. “Awal berdiri, saya cukup sering ke sana. Namun beberapa waktu belakangan, angkringannya itu tutup,” katanya.

Angkringan di Balikpapan sudah melalui proses adaptasi, tak 100 persen seperti angkringan di daerah asalnya, yakni Klaten, Jawa Tengah, ataupun Yogyakarta yang dikenal sebagai “gudangnya” angkringan. Terutama dalam hal menu dan tampilannya.

“Minuman sachet-an misalnya, sebenarnya bukan menu angkringan. Saya awalnya sih nggak jual itu. Tapi karena banyak yang minta, ya akhirnya saya sediakan minuman sachet,” kata Lek Jhon seraya tertawa. (Atha Nalurita)

Berita Terkait