Berita Headline Berita Terkini Fenomena 

Benarkah gajah takut dengan tikus?

CAHAYAKALTIM.COM – Ada banyak cerita tentang gajah: takut sama tikus, memiliki daya ingat tajam, dan punya kuburan. Hanya satu dari ketiganya yang benar.

Reputasi: Gajah takut sama tikus. Gajah punya daya ingat tajam. Ketika tiba saatnya untuk mati, gajah berjalan menuju kuburannya. Gajah berduka. Gajah punya hubungan dengan hyrax, binatang pengerat kecil yang berbulu dan berekor pendek.

Kenyataan: Gajah takut sama lebah. Gajah memiliki daya ingat yang baik. Kuburan gajah cuma mitos namun gajah memang memperlihatkan perhatian pada jenazah. Semua mahluk hidup punya hubungan dengan hyrax.

Apakah Anda tahu gajah punya hubungan dengan hyrax? Itulah salah satu fakta yang sudah disebut orang. Namun pada titik tertentu, semua mahluk hidup punya hubungan dengan hyrax.

Dan pernyataan yang lebih spesifik bahwa gajah merupakan saudara terdekat hyrax bisa menyesatkan.

Pertama, ya karena artinya satu nenek moyang yang sama. Namun keduanya menjalani kehidupan yang terpisah selama sekitar 65 juta tahun.

Kedua, kemungkinan pernyataan itu salah. Beberapa bukti molekul memberi indikasi bahwa gajah lebih dekat dengan dugong dan manate –mamalia laut berukuran sedan dan besar- dibanding dengan hyrax.

Obsesi kita untuk membandingkan yang besar dan yang kecil juga tampak dalam keyakinan kita bahwa gajah takut sama tikus.

Pandangan ini mungkin berasal dari masa kerajaan Romawi, yang ditulis oleh seorang filsuf dan komandan perang, Pliny the Elder, “Dari semua makhluk hidup, mereka paling takut sama tikus.”

Sementara Walt Disney menghadirkan gajah Dumbo dan tikus Timothy Q membuat takut gajah sirkus tersebut sebelum menjadi temannya.

Jadi adakah sesuatu di balik stereotip ini?

“Ada mitos tentang tikus yang naik ke gading gajah,” kata Craig Bruce dari Zoological Society of London. Namun tidak ada bukti bahwa gajah menderita murophobia atau takut pada tikus dan binatang pengerat.

Yang pasti, gajah tidak suka lebah.

Ketika rekaman suara lebah yang terganggu diperdengarkan ke kerumunan gajah yang beristirahat di bawah pepohonan di Kenya, gajah-gajah pergi atau bahkan lari.

Hal itu dilakukan oleh Proyek Gajah dan Lebah, sebuah prakarsa untuk mengkaji kemungkinan penggunaan lebah dalam melindungi tanaman dari serangan gajah di Afrika.

Dan bagaimana dengan daya ingatnya? Gajah bukan saja bisa mengingat tanda-tanda atas permukaan tanah maupun jalur migrasinya, namun mereka juga memiliki daya ingat sosial yang mengesankan.

Di Taman Nasional Amboseli di Kenya pada 1990-an, para peneliti melakukan percobaan untuk mengkaji bagaimana gajah berkomunikasi.

Dalam satu kasus, rekaman suara seekor gajah yang sudah mati dua tahun sebelumnya dimainkan ke keluarganya.

Para gajah kemudian berkumpul dengan alat pengeras suara dan memanggil balik, seuah tanggapan yang menunjukkan satu ikatan sosial yang kuat.

Dalam kasus lain, ketika seekor betina pindah ke kelompok lain, keluarga awalnya tetap menanggapi panggilannya, 12 tahun setelah dia meninggalkan keluarganya itu.

Bagaimana dengan mitos kuburan gajah? Tidak ada alasan untuk mempercayainya. Benar bahwa ada tumpukan besar tulang-tulang gajah, namun kekeringan dan perburuan yang menjadi penyebabnya.

150627093345_earth1Tapi memang ada bukti yang lebih baik, dari anekdot maupun eksperimen, tentang gajah yang berduka atas kematiannya.

Dalam bukunya, Elephant Memories, ahli konservasi lingkunga, Cynthia Moss, mengenang bahgaimana dia membawa tulang rahang dari seekor gajah betina yang merupakan pemimpin keluarga yang baru mati ke kampnya.

Beberapa hari kemudian, keluarga gajah itu kebetulan lewat dekat kamp dan melihat tulang rahang.

Gajah yang paling memperlihatkan perhatian, yang paling lama memperhatikannya ketika gajah-gajah lain sudah pergi, adalah anak laki-laki gajah itu yang berumur tujuh tahun.

Moss dan rekannya menindaklanjuti hal itu dengan melakukan percobaan yang diatur untuk mengkaji perilaku itu dengan lebih sistematis.

Ketika diperlihatkan tiga objek –yaitu sekeping kayu, tengkorak gajah, dan sepotong gading- gajah-gajah memperlihatkan ketertarikan pada gading dan tengkorak dibanding pada kayu.

Walau para peneliti tidak bisa memperlihatkan bahwa gajah lebih tertarik pada jenazah dari keluarga dibanding yang bukan keluarganya, mereka menyimpulkan bahwa “gajah mungkin, melalui indra peraba dan penciuman, mengenali gading dari individu yang akrab dengan kehidupan mereka.”

Hal tersebut mengukuhkan bahwa gajah adalah mahluk yang istimewa, pintar, dengan jangkauan emosi yang dalam.

Namun ada sebuah fakta morfologis –yang berkaitan dengan bentuk dan struktur organisme- yang mungkin tetap mengejutkan.

Hal itu berkaitan dengan anatomi reproduksi betina, yang dalamnya sekitar 3 meter dari awal hingga ujung, yang merupakan terpanjang di kalangan mamalia darat.

Bahkan dengan ukuran penis yang ‘legendaris’, gajah jantan tidak pernah memasuki vagina gajah betina karena bukaannya berada sekitar 1,3 meter di dalam tubuhnya. (BBC)

Struktur yang aneh itu juga ditemukan di mamalia laut. Hal itu mungkin berasal dari nenek moyang gajah di laut, untuk mencegah air masuk ke dalam alat reproduksi pada saat mereka kawin.

Tulisan ini bisa anda baca dalam versi aslinya: The Truth about Elephants sedangkan karangan khas lain tentang lingkungan bisa dibaca di BBC Earth.

Berita Terkait