Berita Headline Ekobis 

Crown perusahan properti ternama Australia lirik Balikpapan

CEO Crown Group Iwan Sunito di Balikpapan. (michael m/cahayakaltim.com)
CEO Crown Group Iwan Sunito di Balikpapan. (michael m/cahayakaltim.com)

BALIKPAPAN, CAHAYAKALTIM.com –Kepastian hukum di Indonesia terutama di Kota Balikpapan, Kalimantan Timur menjadi faktor penting untuk membuka peluang bagi investasi dari luar negeri terutama investor di bidang properti.

CEO Crown Group, Iwan Sunito, mengungkapkan hal ini, investasi di negeri ini masih dibatasi oleh ketidakpastian legalitas hukum, khususnya legalitas lahan sebagai area untuk tempat menanam investasi. Kasus sertifikat bertumpuk masih tinggi dan kerap menjadi momok bagi investor yang siap menanamkan uangnya.

“Kendala pebisnis yang ingin investasi di negeri ini adalah hukum. Misal ingin memiliki tanah (lahan) sertifikatnya kadang bermasalah,” kata Iwan sebelum melakoni jadi pembicara utama di Business Forrum bertajuk Wittout borders di Balikpapan, Rabu (14/10/2015).

Pemerintah sebentar lagi membuka keran investasi secara luas bagi pihak asing. Banyak segi positifnya, kata Iwan, mulai dari Rupiah menguat hingga iklim investasi yang akan semakin baik.

Hanya sajainvestasi itu akan terhambat bila kepastian hukum tidak terwujud dalam banyak hal. “Hal ini yang mesti diperhatikan pemerintah sekarang,” kata Iwan.

Crown Grup membangun bisnisnya di Australia. Di bawah Iwan, Crown menjadi salah satu pengembang swasta paling produktif di Australia dengan portofolio proyek bernilai jutaan dollar, dengan investasinya berupa properti dan hotel.

Bisnisnya sudah berjalan lebih 20 tahun dengan Sydney sebagai pusat dari lokasi utama tempat investasi. Proyek-proyek besarnya cukup banyak seperti menara hunia 29 lantai di Parramatta, 20 lantai di Sidney Utara, hingga kawasan bisnis sekaligus tempat tinggal yang terintegrasi di November lalu.

Iwam mengatakan, beda Australia dengan Indonesia cukup mencolok. Untuk urusan izin di sana sangat susah dan berbiaya tinggi. Indonesia justru mengalami kemudahan izin. Sayang tidak didukung oleh faktor keamanan konsumen.

Iwan mencontohkan, membeli tanah dan properti di Indonesia harus memerlukan pemilihan yang sangat njelimet dan bertele-tele, juga hati-hati. Prosesnya juga cukup panjang.

“Sebaliknya di Australia, proses membeli properti dan tanah bisa satu hari saja. Kita sebagai konsumen itu dilindungi oleh negara. Bila ada masalah dengan properti dan tanah yang konsumen beli maka akan mendapat bantuan. Konsumen akan terjamin,” kata Iwan.

Kini, Crown Group, berencana menjajaki pembangunan properti di Balikpapan. Kendati belum ada kepastian waktu dan tempat, pihaknya tertarik untuk mencoba menjajakinya terlebih dahulu. “Balikpapan sangat lengkap sebagai tempat investasi hunian. Apalagi langsung berhadapan dengan laut,” kata Iwan.

Ketertarikannya dilakoni dengan cara menjajaki lokasi. Iwan tidak bersedia mengungkap lokasi dan kerja sama dalam bentuk apa, juga investasi seperti apa yang akan dijalani. Namun, apabila joint venture memungkinkan untuk dilaksanakan, dia tak mempermasalahkan kondisi ekonomi nasional dan regional yang kini tengah melambat.

“Karena kondisi resesi seperti ini merupakan kondisi terbaik untuk melakukan investasi. Pada saat itu harga tanah bisa terjangkau dan bisa diwujudkan,” katanya.

Iwan sendiri merupakan pebisnis yang mengejutkan indsutri properti di Australia. Crown bermitra dengan Paul Santhio yang memiliki pengalaman arsitektur dalam 20 tahun terakhir.

Iwan pernah mendapat penghargaan property person of the year  dan sejumlah penghargaan lain di Australia. Dia ntaranya, Winner 2013 Ernst and Young Entrepreneur of the year Eastern region indstry category, dan di tahun itu pula ia mendapat congress of indonesian diaspora entrepeneur award.

Catatan penjualannya terbilang ciamik. Salah satunya di penjualan proyek apartemen di lanmark terbaru di kawasan green square, infinity by crown group pada 29 agustus 2015 lalu. Niali penjualannya Rp 3,8 triliun dalam satu hari. (dj zebua)

Berita Terkait