Berita Headline Lingkungan 

Desak sungai Kedang Kepala bebas ponton batubara

Sepasang Pesut Mahakam Datangi Gubernuran  
Jatam pesut (2)
SAMARINDA, Cahayakaltim.com — Sepasang Maskot Kaltim, Pesut Mahakam bernama Pema dan Pemi Bersama Forum Satu Bumi Mendatangi Kantor Gubernur Kaltim untuk Menyampaikan Aspirasinya.

Forum Satu Bumi Meminta Gubernur Kaltim untuk Memilih Pesut Mahakam bukan Ponton Batubara yang kini Melintas di sungai Kedang Kepala, Kecamatan Muara Kaman, Kabupaten Kutai Kartanegara. Menurut Yayasan RASI, Jumlah Mamalia Endemik yang terancam Punah ini di Perairan Mahakam hanya tersisa 86 ekor (RASI;2014)

Tak hanya Pesut, Rengge, bubu, tempirai, ancau dan lainnya, yang merupakan alat tangkap para nelayan yang menggantungkan hidup mereka di sungai kedang kepala juga terancam, bagi mereka Istimewanya daerah ini berekosistem perairan lengkap, dengan keendemikan flora dan faunanya yang beragam, danau, sungai, rawa dan rawa gambut menjadi sajian pemandangan yang menakjubkan bagi yang berkunjung kesana.  Ikan yang berlimpah didaerah ini menjanjikan kesejahtraan bagi warga disekitarnya.

Kelebat sirip Pesut Mahakam yang menjadi simbol kalimantan timur pun sering terlihat di sepanjang sungai kedang kepala, hal ini menambah arti pentingnya sungai ini bagi ekosistem kalimantan timur, hingga pantas jika sebagian  besar  kawasan  tersebut  juga adalah kawasan Cagar Alam Muara Kaman – Sedulang, yang dilindungi SK Gubernur No D.8-130/WEK/1975  dan  SK  Menhut  598/Kpts-II/1995.

Tak hanya itu sungai ini juga bagian dari ekosistem lahan gambut yang Tiap hektar gambut dapat menyimpan 1000 hingga 1.500 ton CO2 (karbon) dan rumah bagi 75 jenis tumbuhan, 33 jenis burung, 15 jenis ikan, Mamalia, reptile dan amfibi, mulai orang utan hingga spesies penting seperti Pesut Mahakam.

Ditengah godaan investasi perkebunan sawit yang telah merambah desa tetangganya, masyarakat Muara Siran yang berada dipinggir sungai ini dengan sadar mempertahankan ganbut mereka demi masa depan akan cucu mereka sendiri.

Buah dari usaha ini muncullah SK  Bupati  Kukar  mengenai  kawasan konservasi  lahan  gambut  No  237/SK.BUP/HK/2014  yang diperoleh dari perjalanan Bupati Kukar ke Oslo Norwegia, tahun 2013 lampau di forum REDD+.

Mengancam Keselamatan & Melanggar AMDAL

15  April  2015,  Warga  Desa  beserta  Pimpinan  Desa Menyandera Ponton pelintas yang membawa batubara milik  anak  perusahaan  Grup  Bayan,  tertera  nama pemegang IUP PT Fajar Sakti Prima didalam dokumen yang  ditahan  warga.  Penyanderaan  berlangsung selama satu hari akibat Ponton yang terus melintas, menabrak keramba, merusak alat tangkap nelayan dan menggelisahkan warga.

Dari 2 Keramba berukuran 2 X 4 Meter Milik Roni  (36  tahun)  warga  Desa  Muara  Siran, misalnya ditabrak Ponton Batubara. Keramba tersebut berisi 11 ribu bibit ikan  mas  dan  baung  yang  baru  berumur  beberapa bulan, ikan lenyap akibat keramba yang terbuat dari kayu kahoi tersebut terkoyak.

18 Juni 2015, Idup (20 tahun) seorang warga muara siran  menuturkan  bahwa  bukan  hanya  ekonomi keramba dan perikanan warga yang terancam namun juga keselamatan jiwa, Alus (40 Tahun )seorang warga yang  dikisahkan  pulang  dari  kebun  mengendarai perahu terancam jiwa saat pulang melintas perahunya nyaris tertabrak ponton batubara saat berpapasan.

Menurut JATAM, Bayan Group dan Fajar Sakti Prima bertanggung jawab atas pelanggaran  AMDAL  dan Perusakan  Kawasan  Konservasi  Gambut,  Cagar Alam  dan  Habitat  Hidup  Pesut  Mahakam.

Pelanggaran AMDAL Karena ada beberapa oknum  dan  pihak  yang  sengaja  memindah  alur pelayaran  Ponton  dari  tempat  yang  disetujui AMDAL ke sungai kedang kepala, sedangkan dalam AMDAL disebutkan, alur pengangkutan batubaranya melewati sungai belayan dan bermuatan 2700 ton, bukan 8000 ton seperti yang melintas sekarang.

Fajar sakti prima tercatat sebagai salah satu dari 8 perusahaan tambang batubara Bayan Group milik Orang  Terkaya  ke  12  Indonesia  asal  singapura, Dato’  Low  Tuck  Kwong,  yang mengakui dirinya sebagai penyayang binatang.  Bayan group memiliki beberapa wilayah yang  membentang  di Kaltim dan Kalsel.

BLH Provinsi Kalimatan Timur telah mengundang semua pihak yang terkait dengan masalah ini pada tanggal 13 Agustus 2015 lalu, pertemuan ini dimaksutkan untuk meminta keterangan semua pihak terkait, agar dapat dihimpun semua bukti-bukti untuk penindakan dalam kasus ini setelah sebelumnya Gubernur juga telah mengeluarkan surat edaran pertimbangan agar sungai kedang kepala tidak menjadi jalur perlintasan ponton batubara.

Sebelumnya Forum Satu Bumi Menyesalkan Tindakan Dishub Kukar & KSOP Samarinda yang berani Menentang Surat Gubernur.

Sekarang keputusannya ada ditangan Gubernur, setelah semua keterangan dan barang bukti pelanggaran telah dihimpun dan diserahkan kepada Gubernur.

Bersikap dan bertindak seperti apa kah Gubernur, terkait masalah ini masih jadi tanda tanya, berpihak pada keselamatan ruang hidup masyarakat dan pelestarian lingkungan atau pada koorporasi yang akan merusak itu semua, semua ada ditangan beliau.

Pesan Forum Satu Bumi untuk Gubernur, jika ingin mencatat sejarah, inilah saatnya, hanya ada dua pilihan, Gubernur akan dikenang sebagai kepala daerah yang ikut serta dalam pelestarian pesut mahakam yang merupakan simbol dari Provinsi Kalimantan Timur atau dikenang sebagai kepala daerah yang turut andil dalam pemusnahan satwa endemik ini dengan membiarkan ponton batubara hilir mudik di sungai kedang kepala dan tidak mencabut ijin PT. Fajar Sakti Prima yang telah terbukti melanggar AMDAL.

Berita Terkait