Posts Grid

Juni 19, 2021

cahayakaltim.com

Jernih Inspiratif

Dimanja dengan Bayangan ‘Jalan Maut’

OPINI, CAHAYAKALTIM.com—Semakin mudahnya mendapatkan kendaraan terutama sepeda motor, membuat kendaraan roda dua tersebut semakin banyak digunakan semua kalangan. Bahkan pengendara yang belum bisa mendapatkan ijin resmi untuk berkendaraan pun bisa berkendaraan.

Remaja, memang belum cukup umur untuk mengendarai kendaraan baik roda dua maupun roda empat. Namun salah satu alasan yang membuat larangan tersebut luntur, adalah untuk dipakai ke sekolah. Dan pelanggaran maupun penyimpangan pun terjadi.

Pengendara di bawah umur sudah menjadi fenomena di masyarakat. Mulai di kota-kota besar hingga di Pedesaan, kita kerap disuguhkan dengan maraknya pengguna kendaraan terutama motor di bawah umur.

Para pengendara di bawah umur tidak sadar sebenarnya bahaya tengah menghampirinya. Ia juga tidak peduli sedang melakukan sebuah pelanggaran. Mereka telah melanggar Undang-Undang No 22 Tahun 2009, tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan.

Bahayanya lagi, pengendara di bawah umur ini juga kerap tidak mengindahkan kelengkapan pengaman berkendara seperti helm standar. Selain itu, ada kecenderungan mengendarai kendaraan bemotor dengan kecepatan tinggi bahkan ugal-ugalan.

Peran dan Kewajiban orang tualah yang seharusnya untuk memperhatikan anak-anaknya yang belum cukup umur, agar tidak mengendarai motor atau mobil. Faktor, usia muda identik dengan sikap emosional yang masih tinggi. Dengan demikian, ugal-ugalan di jalan besar kemungkinan terjadi.

Orang tua sangat berperan dalam mendidik dan menjaga keselamat anak mereka dari peristiwa yang tidak mereka inginkan terjadi terhadap anak–anak mereka. Terkadang orang tua terlalu memanjakan anak–anak mereka dengan memberikan hadiah sebuah sepeda motor pada saat ulang tahun atau juara di sekolah.

Kelalaian memberi hadiah seperti ini, berakibat fatal terhadap anak itu sendiri. Dengan sadar atau tidaknya orang tua telah membantu membunuh masa depan anak–anak mereka. Tanpa memperhatikan dan menjaga kemana dan dimana anak–anak mereka membawa sepeda motor. Sayang terhadap anak jangan membuat nyawa melayang memiliki banyak arti, karena anak–anak kita yang merupakan penerus generasi, bangsa ini, jika kita tidak mendidik mereka dengan baik saat ini, dipastikan Negara kita yang tercinta ini akan hancur.

Di samping itu, orang tua yang kurang mematuhi dan mengetahui tentang peraturan berlalu lintas Undang-Undang No 2 Tahun 2009, merupakan salah satu penyebab orang tua membiarkan anak mereka mengendarai kendaraan di jalan raya.

Agar siswa lebih berdisiplin dalam berkendaraan, para guru, dan orang tua sebaiknya mengerti dan mengetahui tentang Undang–Undang No. 2 tahun 2009, dengan tujuan agar para siswa baik yang sudak memiliki SIM atau sebaliknya dapat mengerti aturan-aturan dalam berkendera di jalan raya.

Disampaing itu juga, peran kepolisian ikut turut terlibat dalam mensosialisasikan tata tertip lalu lintas. Dalam Undang – Undang No. 22 tahun 2009, Pasal 77 ayat (1) menyebutkan, bahwa para pengendara kendaraan bermotor wajib memeiliki SIM, dan pasal 44 ayat (2) huruf a menyatakan batas usia minimal untuk memiliki SIM adalah 17 tahun. Maka diharapkan pihak kepolisian untuk menindak tegas dan memberikan arahan kepada pelajar khususnya untuk bisa mematuhi peraturan yang sudah berlaku.

Sosialisasi tentang lalu lintas oleh Kepolisian dalam hal ini Satuan Lalu lintas, seakan takhenti-hentinya dilakukan demi menyadarkan pengendara agar menyayangi diri sendiri dalam berkendaraan. Hanya saja, peringatan tersebut seakan belum berpengaruh.

Untuk meminimalisasi pelanggaran dan kecelakaan lalu lintas di kalangan pelajar, disamping perlu ketegasan dari aparat kepolisian, hal yang tidak kalah penting adalah perlu ketegasan dari orang tua dan sekolah untuk melarang siswa membawa sepeda motor ke sekolah.

Pemerintah pun perlu menyediakan sarana transportasi yang aman dan nyaman buat pelajar. Misalnya dengan menyediakan bis sekolah. Dengan adanya pendidikan lalu lintas bagi pelajar, mudah-mudahan dapat membangun budaya sadar tertib berlalu lintas sejak dini, karena karakter bangsa salah satunya dapat dilihat dari perilakunya di jalan raya.

Menurut data Dirlantas Polda Kaltim, di tahun 2017 sudah terjadi 1,141 kasus kecelakaan di wilayah Kalimantan Timur yang terbagi dalam tiga kecelakaan, yakni ;

  • Laka, 977 kejadian dengan korban meninggal dunia sebanyak 271 orang, 362 orang luka berat dan 736 luka ringan.
  • Laka Tunggal, dengan 127 kejadian dengan korban meninggal dunia 43 orang, luka berat 22 orang dan luka ringan 79 orang.
  • Tabrak Lari sebanyak 37 kasus dengan korban meninggal 8 orang, luka berat 28 orang dan luka ringan 14 orang.

Dalam kategori usia, mayoritas berumur 26-30 tahun,  korban di usia produktif tersebut sebanyak 549 orang. Yang miris di usia remaja atau berusia diantara 10-25 tahun, selam tahun 2017, ada 138 orang korban.

Dimana menurut data Dirlantas Polda Kaltim mengungkapkan sedikitnya ada 274 pelajar di Kaltim berkontribusi dalam angka kecelakaan.

Untuk itu, mari kita jaga ketertiban berlalu lintas dan mengajak dan mengajarkan anak-anak kita untuk sadar akan bahayanya berkendaraan tanpa peduli akan aturan. (*)

Oleh : Michael R Mailangkay (pimpinan redaksi cahayakaltim.com)

 

%d blogger menyukai ini: