November 26, 2020

cahayakaltim.com

Jernih Inspiratif

Dr Ragu Raman : Ngelem berakibat ganguan jiwa

Ilustrasi ngelem. Image by bengkulu pos.

BALIKPAPAN, CAHAYAKALTIM.com–Dalam beberapa tahun belakangan ini tingkat prilaku anak anak yang menghirup lem kian hari kian mengkhawatirkan. Lem yang sejatinya digunakan sebagai bahan perekat bahan bangunan atau kayu itu ternyata sangat berbahaya bagi kesehatan, dikarenkan kandungannya seratus persen adalah zat kimia yang membahayakan bagi tubuh.

Hal ini seperti dikatakan Mayor CKM Dr Ragu Raman SpKJ, yang mengatakan bahwa ngelem itu dapat merusak organ tubuh seperti paru paru dan ginjal. “Awalnyakan ketika menghirup lem itu pelakunya langsung merasakan halusinasi atau fly. Namun jika hal ini terus dilakukan, tentu sangat membahayakan bagi penggunanya,” ujarnya saat ditemui di ruang praktiknya di RS Tentara Balikpapan, Rabu (04/10/2017).

Lebih lanjut Dokter Ragu mengatakan, efek dari seringnya menghirup lem itu rupanya berdampak serius bagi tubuh. Pengunannya tidak hanya mengalami kerusakan paru paru, gangguan fungsi hati dan ginjal saja namun juga dapat mengalami gangguan jiwa.

“Akibat terlalu seringnya menghirup lem itu, pelakunya yang awalnya merasa fly akibatnya menjadi kurang gizi dikarenakan kurangnya nafsu makan. Jika ini berlangsung terus maka organ vital yang ada dalam tubuh mengalami kerusakan,” ujar alumni Fakultas Kedokteran Spesialis Kejiwaan Universitas Padjajaran Bandung ini.

Ia juga mengatakan, efek dari seringnya menghirup lem ini juga bisa mengalami gangguan jiwa. “Itukan yang dihirup zat kimia. Masuk saluran pernafasan paru parunya rusak. Pernafasan masuk aliran darah lari ke otak. Jadi Bukan saja mengalami gangguan jiwa saja. Yang lebih parah lagi adalah organ tubuh bisa mengalami kerusakan. Paru parunya rusak, ginjalnya rusak dan bisa saja mengalami kanker paru paru. Itukan yang dihirup zat kimia yang sangat berbahaya bagi tubuh kita jika dihirup,” ujar Dokter Ragu lagi.

Ironisnya berdasarkan fakta di lapangan, para pelakunya adalah dari kalangan anak anak pinggiran yang berusia 10 hingga 17 tahun. Mereka kebanyakan dari kalangan keluarga yang kurang mampu.

“Narkoba jenis obat obatan terlarang kan mahal dan peredarannya juga sangat terbatas dan agak susah mereka dapat, sehingga bisa saja ngelem inilah yang menjadi pilihan mereka,” ujarnya.

Yang lebih mengkhawatirkan lagi adalah anak anak pelaku ngelem ini adalah dari kalangan orang tidak mampu. Bahkan hubungan kekeluargaan antara anak dan orang tuapun yang renggang menjadi salah satu pemicu anak anak melakukan ngelem.

Q

Ketika ditanya apakah sejauh ini ada pasien yang berobat ke dokter untuk menyembuhkan anaknya dikarenakan ketergantungan ngelem.

“Jangankan mau berobat ke dokter, mungkin untuk makan saja mereka sulit. Ke dokterkan butuh biaya juga,” imbuhnya.

Ia juga berharap, perilaku anak anak yang suka ngelem saat ini sudah memprihatinkan dan sudah menjadi tanggung jawab semua elemen.

“Jadi ini bukan menjadi tanggungjawab pemerintah saja. Tapi semuanya. Mulai dari orang tua, tenaga pendidik, lingkungan dan semua lapisan masyarakat seharusnya peka dalam menyikapi keadaan seperti ini,” pungkasnya. (*)

 

Penulis : Alfian Tamzil

Editor : Michael M

Posts Grid

%d blogger menyukai ini: