Berita Terkini Lingkungan 

Hutan terbakar, bayi orangutan terpaksa masuk kebun sawit

Bayi orangutan. (ist)
Bayi orangutan. (ist)

BALIKPAPAN, CAHAYAKALTIM.com – Penyelamatan orangutan berusia tiga tahun dari salah satu blok di sebuah kebun sawit di Kecamatan Sebangau Kuala Kabupaten Pulang Pisau Kalimantan Tengah berlangsung dramatis. Si orangutan itu bertahan di ketinggian lebih 8 meter di pucuk salah satu pohon sawit.

Ia bertahan sekalipun badannya dipenuhi semut rangrang yang sarangnya rusak akibat gerakan orangutan.

“Orangutan itu gusar pada kehadiran banyak orang. Ia semakin tinggi naik ke pucuk pohon sawit. Selama lebih  45 menit membujuk dengan buah-buahan tidak berhasil. Tak bisa menunggu lama, kami gunakan bius dosis kecil racikan dokter hewan kami,” kata Koordinator Komunikasi BOSF Nyaru Menteng, Monterado Fridman, Minggu (18/10/2015).

Upaya bius membuat tim gabungan BKSDA Kalteng dan BOSF berhasil menurunkan orangutan itu. Orangutan itu kurus, sangat kelaparan, dan dehidrasi. Tidak diketahui berapa lama ia terjebak di sana.

“Dokter hewan BOSF, drh Fiet Patisfatika melakukan pemeriksaan awal dari sampel darah, rambut, kuku dan gigi. Diyakini usia 3-4 tahun, betina, rambut merah,” katanya.

“Umur dimana orangutan masih berpelukan dan menggantungkan erat pada induknya dan tidak terpisahkan. Tak tahu lagi dimana sang induk,” katanya.

Orangutan ini merupakan bayi ketiga yang diselamatkan BOSF dan BKSDA belakangan ini dari kebakaran hebat yang berlangsung di Kalteng. Monterado meyakini banyak orangutan dan hewan besar lain tidak mampu menyelamatkan diri dari kebakaran yang melanda hutan di Kalimantan Tengah akibat kebakaran hebat. belakangan ini.

Temuan sejumlah orangutan (pongo pygmaeus) dan beruang madu (helarctos malayanus) belakangan ini  menjadi petunjuk bagi dugaan ini.

“Di duga bayi orangutan itu lari menyelamatkan diri dari hutan lebat yg terbakar hebat di sekeliling batas dg kebun sawit

Kami jg menduga ada kemungkinan induknya mati terbakar atau sempat menyelamatkan dirinya jg di area kebun sawit tersebut

Melihat kenyataan di lapangan hutan lebat sekeliling batas dg area kebun sawit terbakar hebat

Jd tdk menutup kemungkinan satwa liar yg mendiami hutan itu menyelamatkan diri masuk area kebun sawit perusahaan itu,” kata Monterado.

Kebakaran hutan meningkat melanda Kalteng di pertengahan Agustus 2015. Kebakaran itu meluas dan mengakibatkan selimut asap yang puncaknya terjadi di September-Oktober 2015 ini. Monterado mengatakan, BOSF menemukan empat orangutan dan satu beruang madu tersesat di pemukiman warga selama puncak kabut asap terjadi.

Tiga dari empat orangutan itu, terdiri dua bayi dan satu betina dewasa 11 tahun bisa diselamatkan. Sementara satu jantan orangutan dewasa dan satu jantan beruang madu masih dalam upaya evakuasi.

Dengan banyaknya orangutan yang ditemukan di permukiman juga kebakaran hutan saat ini, Monterado memperkirakan populasi orangutan juga semakin menyusut cepat.

BOSF pernah mencatat, populasi orangutan di alam liar di tiga provinsi yakni Kalteng, Kaltim dan Kalbar mencapai 56.000 individu pada 2008. Jumlah terbanyak yakni 35.000 individu diperkirakan ada di Kalteng.

Namun seiring perjalanan waktu jumlah orangutan terus tergerus karena pembangunan dan pemekaran daerah, deforestasi atau perusakan hutan, hingga soal perburuan yang sempat marak di 2013.

“Kira-kira sekarang ini orangutan yang tersisa 30.000-40.000 individu yang hidup di alam liar di tiga provinsi itu. Sedangkan di tempat kami (BOSF Nyaru Menteng) saat ini ada 470 individu,” kata Monterado.

Kebakaran yang terus terjadi berulang tiap tahun juga menjadi ancaman besar bagi habitat mereka. Jumlah titik api yang terpantau satelit Terra&Aqua terdapat 2.714 titik api di seluruh provinsi di Kalimantan di 14 Oktober 2014 lalu.

Kisaran 56 persen atau 1,540 titik diantarnya diyakini sebagai titik api yang menyumbang kabut asap di Kalimantan yang masih terjadi hingga kini. “Dan penyumbang terbesar kabut asap di Kalteng sendiri ada di Pulang Pisau,” kata Monterado. (dj zebua)

Berita Terkait