Sport 

Ini penyebab tim elit Liga Inggris sulit kalahkan Leicester City

image by PA
image by PA

CAHAYAKALTIM.com–Leicester City baru kalah 2 kali dari 25 pertandingan Liga Primer musim ini, dan ini disebabkan karena mereka berpegang pada kekuatan utama mereka.

Ditulis Danny Murphy, wartawan BBC yang dilansir di BBCIndonesia.com, Leicester menggunakan taktik serangan balik dan formasi 4-4-2, tapi tak banyak yang bahkan tak mencoba menaklukkan formasi itu.

Banyak tim yakin bisa mengalahkan Leicester dengan taktik mereka sendiri ketimbang mengantisipasi taktik Leicester.

Ini disebabkan tim modern saat ini beranggapan 4-4-2 adalah taktik kuno, tapi Leicester memperlihatkan dengan sistem yang benar, para pemain bisa memainkannya dengan sempurna.

Kunci utamanya adalah pada tim pelatih dan penyempurnaan pada saat latihan, tapi kecerdasan para pemain sangat penting, terutama ketika mereka harus bertahan ketika kehilangan bola.

Serangan balik

Leicester tidak terlalu peduli pada penguasaan bola. Rata-rata penguasaan bola mereka hanya 41%, yang terendah di antara tim yang sekarang menghuni 5 posisi teratas klasemen.

Jumlah umpan per pertandingan juga rendah, hanya peringkat kedua terbawah, 336 umpan per pertandingan, dengan akurasi 69% yang merupakan peringkat terendah di liga.

Namun pertahanan mereka baik, tak memainkan bola terlalu lama dan langsung maju ke depan dengan kecepatan pemain-pemain mereka, untuk menghukum tim lawan.

Mereka sering kehilangan bola karena ingin bermain cepat, dengan umpan jauh dari sepertiga lapangan mereka sendiri.

Untuk megalahkan Leicester, tim lawan perlu bermain bertahan, menumpuk pemain di belakang sehingga tak ada ruang bagi pemain Leicester menggunakan kecepatan mereka.

Leicester bukan satu-satunya tim yang menggunakan taktik serangan balik di Liga Primer. West Ham dan Crystal Palace juga sukses menerapkan taktik ini.

Kompak

Namun hanya tim yang berjuluk The Foxes ini yang mampu secara konsisten memainkannya.

Leicester juga tak banyak mengubah susunan pemain, membuat mereka bermain dengan sangat kompak.

Pasangan Danny Simpson dan Riyad Mahrez di sisi kanan mirip dengan duet Gary Neville dan David Beckham di masa kejayaan Manchester United. Keduanya bisa berbagi peran dengan amat baik dalam meyerang dan bertahan.

Manajer Claudio Ranieri menunjuk pemain yang sama dalam lima laga terakhir, dan hanya 21 kali mengubah susunan pemain dari 25 pertandingan – yang terendah di Liga.

Ini membuat tim makin menyatu dan punya saling pengertian yang baik. (bbcindonesia.com)

Berita Terkait