Berita Headline Iptek 

KLHK Regional Kalimantan kembangkan kipas oksigen penyaring udara

Kipas penyaring udara

BALIKPAPAN, CAHAYAKALTIM.com –Pusat Pengendalian Pembangunan Eko Regional Kalimantan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (P3E KLHK) mengembangkan kipas yang mampu menyaring asap pekat menjadi oksigen yang lebih bersih dan baik untuk dihirup manusia. Inovasi ini telah berlangsung satu minggu belakangan ini.

“Kami bikin dulu. Hasilnya satu dua hari ke depan,” kata Kepala bidang Evaluasi dan Tindak Lanjut P3E Kalimantan, Sasmita, Senin (26/10/2015).

“Kami mengujicoba dulu dan bila seperti yang diharapkan maka akan diperbanyak. Hasilnya hari Rabu atau Kamis,” kata Sasmita.

Sasmita mengatakan proyek kecil ini diharapkan memiliki dampak luas bagi warga terkena dampak asap. Proyek ini dinamai ‘rumah tanpa asap’. Fasilitas yang dikembangkan berupa kipas pemurni udara sejumlah empat kipas. Keempat kipas akan diujicoba di luasan ruang 13,5 meter persegi. Mereka akan menguji di rumah di Kalteng.

Kipas oksigen ini sekilas terlihat sangat sederhana. Dibuat dari kipas angin biasa yang kebanyakan bentuknya kotak. Kipas itu kemudian ditambah lima lapis penyaring dengan kegunaan berbeda-beda. Konon, saringan udara ini mampu menyaring partikulat di udara antara PM 2.5 sampai PM 10.

“Kita tidak bisa menunggu lagi. Kita mesti membuatnya. Kami ke sana (Kalteng) menemui kondisi anak-anak yang sangat menyedihkan,” kata Sasmita.

Kipas ini muncul dari saran seorang pendaki yang kerap menciptakan perkakas bagi para petualang. Rahman ‘Baba’ Adi, pendaki itu, memiliki ide untuk membuat penyaring. Baba terinspirasi alat sejenis yang sudah berkembang di Cina. Menurutnya, membuat kipas oksigen itu tidak rumit, murah, cepat, dan bisa dibikin secara massal.

“Ini pekerjaan amal bagi dia. Karena itu dia gratiskan pembuatannya. Alatnya kita yang belikan,” kata Sasmita.

Sasmita mengatakan, bila kipas ini akhirnya selesai nanti maka yang akan dinikmati pertama kali oleh warga Kalteng terlebih dulu. “Karena kasihan sekali warga di sana. Kalau kita foto yang ada hanya kuning, tanda konsentrasi partikulat sangat tinggi. Empat jam saja sudah mata perih. Apalagi bagi mereka yang sudah lama di sana,” kata Sasmita.

Kipas pemurni udara dianggap merupakan jalan keluar paling mungkin untuk saat ini bagi warga terkena dampak asap. Kepala P3E Kalimantan, Tri Bangun Laksono, mengatakan kipas jadi jalan keluar yang bisa diwujudkan dalam waktu cepat, untuk sementara ini.

“Bukan evakuasi (jadi jalan keluar). Menempatkannya dimana (bila evakuasi) Kita jangan menciptakan masalah baru,” kata dia. (dj zebua)y

Berita Terkait