Berita Headline Lingkungan 

Orangutan selundupan ke Kuwait dan Thailand pulang rumah

ist/bos
ist/bos

BALIKPAPAN, CAHAYAKALTIM.com—Sudah tujuh orangutan yang direpatriasi dari Kuwait dan empat orangutan dikembalikan dari Thailand serta satu orangutan yang berhasil disita di Bandara Internasional Soekarno Hatta ke asalnya di Pulau Sumatera dan Kalimantan sejak 5 bulan terakhir ini.

Dari hasil tes DNA dari salah satu orangutan yang direpatriasi dari Kuwait, betina bernama Puspa, menyatakan bahwa dia adalah orangutan Sumatera (Pongo abelii), sementara hasil tes DNA keenam orangutan lainnya menunjukkan mereka berasal dari Kalimantan Tengah (Pongo pygmaeus wurmbii).

Hal ini membuat Puspa harus berpisah dengan dua bayi orangutan lain, yaitu Mozayang juga direpatriasi dari Kuwait, dan Junior yangdisita di Bandara Internasional Soekarno-Hatta, Tangerang.

Ketiga orangutan tersebut, bersama dengan empat orangutan yang dikembalikan dari Thailand, selama ini dirawat di Fasilitas Karantina milikTaman Safari Indonesia di Cisarua, Bogor, sementara menunggu hasil tes DNA mereka.

Puspa akan diserahterimakan kepada Sumatra Orangutan Conservation Programme (SOCP) yang berpusat di dekat Medan, Sumatera Utaradan dipimpin olehDr. Ian Singleton.

Sementara Moza, Junior, serta dua pasang orangutan Ibu dan anak yang dikembalikan dari Thailand akan dibawa kePusat Reintroduksi Orangutan Yayasan BOS di Nyaru Menteng dengan tujuan akhiruntuk pelepasliaran di hutan Kalimantan.

“Kami sangat berterima kasih kepada semua pihak dan personel yang bekerja bersama untuk menyelamatkan dan mengembalikan Puspa dari Kuwait, termasuk Ditjen KSDAE, FORINA, BOSF, Taman Safari Indonesia, Lembaga Biologi Molekuler Eijkman dan juga Sriwijaya Air, yang sangat membantu proses pemulangan Puspa ke pulau asalnya di Sumatera,” kata Ian Singleton, Ph.D.,Direktur Sumatran Orangutan Conservation Programme (SOCP).

Menurut Ian, menyelamatkan dan melestarikan satwa langka yang dilindungi undang-undang merupakan tanggung jawab kita semua dan kami di SOCP siap untuk merehabilitasi Puspa sampai kelak ia siap dilepasliarkan kembali ke alam liar.

“Orangutan merupakan satu-satunya spesies kera besar yang ditemukan di Asia,khususnya di Pulau Sumatera dan Kalimantan, dan kami akan melakukan segala yang kami bisa untuk memastikan Puspa dapat dikembalikan ke habitatnya dan hidup sebagai orangutan liar lagi di habitat alaminya,” terang Ian.

Senada juga diungkapkan CEO Yayasan BOS, Dr. Ir. Jamartin Sihite. Dia mengatakan pihaknya ingin kembali menekankan perlunya komitmen lebih besar dari seluruh pihak terkait untuk menghentikan kegiatan perdagangan satwa liar.

“Tindakan kriminal seperti inilah yang membuat Puspa dan Moza terdampar di Kuwait. Upaya hukum untuk memberantas perdagangan satwa liar ini harus dilakukan melalui preventif dan represif,” kata Jamartin.

Perdagangan satwa terjadi karena permintaan pasar yang tinggi. Satwa berkurang permintaan bertambah. Untuk itu, kata Jamartin, pengendalian perdagangan satwa illegal harus dipantau pada titik tertentu agar tidak lolos. Harus ada strategi kontrol bersama. Penegak hukum dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), Kepolisian, Kejaksaan, Karantina dan Bea Cukai harus kompak. Semua harus berkomitmen tinggi. Hukum juga tidak boleh pandang bulu, meski ada oknum sekalipun sebagai pelaku.

“Kami di Yayasan BOS selalu berusaha sebaik mungkin menyelamatkan orangutan dan mengembalikan mereka ke habitat alaminya, dan kami selalu bekerja sama dengan semua pihak terkait dalam melakukannya. Dalam kasus Puspa, setelah dipulangkan dari Kuwait, hasil tes DNA menyatakan bahwa ia berasal dari Sumatera, maka Puspa akan kami serahkan kepada SOCP untuk melanjutkan proses rehabilitasi agar kelak Puspa dapat dilepasliarkan. Kita semua berharap Puspa kelak bisa hidup di habitat alaminya, di hutan Sumatera,” beber Jamartin.

Pendapat juga diutarakan, Direktur Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem (Dirjen KSDAE) Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Dr. Ir. Tachrir Fathoni,M.Sc. Dia mengatakan, Pemerintah Indonesia telah berusaha keras untuk mencegah, mengantisipasi, dan menyelidiki perdagangan satwa liar.

“Saat ini Pemerintah Indonesia sedang mendata jumlah orangutan yang diselundupkan secara illegal ke luar negeri dengan harapan bisa dikembalikan ke Indonesia segera. Kebijakan Pemerintah Indonesia adalah mengembalikansemua orangutan kembali ke habitat alaminya di hutan jika memungkinkan,” kata Tachir.

Herry Djoko Susilo, Ketua Forum Orangutan Indonesia (FORINA) menyatakan, orangutan adalah satwa yang dilindungi oleh Undang-Undang No. 5/1990.

Upaya pelestariannya pun tersusun rapi dalam Strategi dan Rencana Aksi Konservasi Orangutan Indonesia 2007-2017 yang diluncurkan langsung oleh presiden Indonesia saat itu, Bapak Susilo Bambang Yudhoyono, pada Konferensi Perubahan Iklim di Bali, Desember 2007.

“Namun keberhasilan konservasi orangutan sangat tergantung pada dukungan dan keseriusan semua pihak, yaitu pemerintah dan masyarakat,” kata Djoko.

“Sudah saatnya semua pihak lebih peduli terhadap konservasi orangutan. Karena selain melindungi orangutan dari ancaman kepunahan, melestarikan habitat orangutan berarti berupaya menyelamatkan bumi kita,” tegas Djoko.

Orangutan terbagi dalam dua jenis (spesies) yang berbeda, Pongo pygmaeus di Kalimantan dan Pongo abelii di Sumatera. Saat ini diperkirakan hanya sekitar 6.600 orangutan yang tersisa di Sumatera dan sekitar 54.500 di Kalimantan.

Oleh karenanya Orangutan Sumatera terdaftar sebagai Critically Endangered (sangat terancam punah) dan orangutan Kalimantan sebagai Endangered (terancam punah) di daftar merah spesies terancam (red list of threatened species) oleh IUCN (International Union for Conservation of Nature).

Ancaman terbesar untuk kedua spesies ini adalah kehilangan habitat, terutama karena konversi untuk perkebunan dan pertanian, fragmentasi habitat, misalnya untuk pembukaan jalan dll., dan pembunuhan serta penangkapan orangutan yang kemudian dijadikan satwa peliharaan dan perdagangan.

Ancaman-ancaman ini cukup serius dan menjadikan Orangutan Sumatera terdaftar sebagai salah satu dari 25 jenis primata yang paling terancam punah 2014-2016 (Worlds Top 25 Most Endangered Primates) oleh IUCN. (adv/michael)

 

Berita Terkait