Berita Terkini Lingkungan 

Pasca kebakaran hutan, BOS misi penyelamatan orangutan skala besar

ist
ist

PALANGKA RAYA, CAHAYAKALTIM.com–Menindaklanjuti kebakaran hutan di sebagian wilayah Mawas serta penemuan dua tengkorak orangutan di sepanjang Sungai Mangkutup, Kabupaten Kapuas, Kalimantan Tengah, tim gabungan dari BKSDA Kalimantan Tengah dan Yayasan BOS melalui Program Konservasi Mawas dan Program Reintroduksi Orangutan Nyaru Menteng meluncurkan misi pertolongan berskala besar.

Tim gabungan ini berhasil menyelamatkan 39 individu orangutan dan melepasliarkannya ke lokasi lain yang lebih aman dalam wilayah Program Konservasi Mawas. Sejumlah orangutan lain diduga masih berada dalam bahaya.

Nopember 2015 lalu tim rescue gabungan dari Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Tengah, Program Konservasi Mawas (Mawas), dan Program Reintroduksi Orangutan di Nyaru Menteng (Nyaru Menteng) bertolak menuju wilayah kerja Mawas di sepanjang Sungai Mangkutup, Kabupaten Kapuas, yang sebelumnya mengalami kebakaran hutan.

Tim ini menindaklanjuti hasil survei Yayasan BOS beberapa hari sebelumnya yang menemukan dua tengkorak orangutan di wilayah tersebut. Tim ini melaksanakan misi penyelamatan dari tanggal 27 November sampai dengan 7 Desember 2015 lalu.

Tim penyelamat ini dilengkapi dengan dua orang dokter hewan, dan selama 10 hari beroperasi, berhasil menyelamatkan dan memindahkan 39 individu orangutan terdiri dari 25 dewasa (9 jantan, 16 betina) dan 14 anak (10 jantan, 4 betina) dari kawasan rawan di Mangkutup ke hutan di sekitar Sungai Mantangai dan kamp kami di Bagantung, Kabupaten Kapuas.

Upaya penyelamatan dan pemindahan ini kami sebut translokasi. Lokasi ini kami pilih karena ketersediaan pohon pakan yang dinilai cukup, serta keamanan dari pembalak liar yang banyak kami temukan di sepanjang Sungai Mangkutup.

Sebelumnya, survei Yayasan BOS yang dilaksanakan pertengahan bulan November lalu menemukan setidaknya 30 individu orangutan dalam wilayah sepanjang 500 meter di tepi Sungai Mangkutup, diduga terpaksa keluar dari wilayah jangkauannya akibat kebakaran hutan bulan Oktober.

Namun karena tim survei tidak dilengkapi dengan sumber daya dan peralatan yang memadai, upaya penyelamatan tidak bisa dilaksanakan.

Sementara di pekan kedua November lalu, tim dari BKSDA Kalteng bekerja sama dengan tim dari Nyaru Menteng dan Mawas di Tuanan bahkan menyita 3 bayi orangutan liar dari penduduk wilayah Mangkutup. Tidak ada informasi yang jelas mengenai apa yang terjadi terhadap para induk orangutan tersebut, namun kami menduga ini terkait erat dengan kebakaran hutan dan kemudian penduduk setempat memelihara ketiganya.

Selama terjadinya kebakaran hutan, para orangutan kerap terpaksa keluar dari habitat mereka, dan mendekati pemukiman penduduk. Hal ini tentu memunculkan potensi konflik dengan manusia.

Kepala Balai Konservasi dan Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Tengah, Dr. Nandang Prihadi, S.Hut., M.Sc., mengatakan, bencana kebakaran hutan dan kabut asap yang secara masif melanda Kalimantan Tengah sepanjang September dan Oktober lalu telah memberi dampak negatif terhadap kesehatan tidak hanya pada manusia, namun juga satwa liar termasuk yang dilindungi seperti orangutan.

“Kami tengah berusaha mendata sekaligus menyelamatkan orangutan yang tersisa demi kelangsungan upaya pelestariannya. Tindakan translokasi satwa yang telah sehat ke habitat yang lebih baik, dengan keamanan dan ketersediaan pakan yang cukup menjadi krusial dilakukan saat ini. Oleh karena itu kerjasama semua pihak tak terkecuali pemerintah daerah dan LSM sangat dibutuhkan. Berbagai macam upaya pencegahan dan mitigasi bencana kebakaran hutan harus kontinyu dilakukan serta tindakan cepat tanggap darurat yang tepat agar apabila bencana kebakaran hutan ini berulang, kita telah siap mengantisipasi efeknya. Hal tersebut seperti yang diamanahkan undang-undang dan peraturan pemerintah,” kata Nandang.

Sementara itu, Dr. Ir. Jamartin Sihite, CEO Yayasan BOS, mengatakan, kabut asap dan kebakaran hutan yang masif ini sebagian besar terjadi karena ulah manusia juga. Kebakaran hutan di Kawasan Konservasi Mawas jelas menimbulkan masalah bagi populasi 3.000 orangutan liar yang ada di sana. Kita juga mutlak perlu meningkatkan pengawasan atas berbagai kegiatan illegal seperti perburuan dan pembalakan liar yang sampai saat ini masih terjadi.

“Tim kami di lapangan masih menemukan kayu-kayu hasil pembalakan liar diangkut melalui sungai-sungai di Kawasan Konservasi Mawas. Kami selalu melaporkannya kepada aparat yang berwenang, namun sampai saat ini pelanggaran masih saja terjadi. Pemerintah perlu meningkatkan komitmennya dalam hal ini,” terang Sihite.

Jhanson Regalino, Manajer Program Konservasi Mawas menduga jumlah individu orangutan yang membutuhkan pertolongan masih lebih besar daripada yang ditemukan di lapangan. Karena sejujurnya, pihaknya belum sepenuhnya berhasil menyusuri seluruh daerah dalam wilayah konservasi Mawas yang sempat terbakar beberapa waktu lalu.

“Hutan kecil di sekitar Sungai Mangkutup itu vegetasi pakan orangutannya sudah semakin menipis akibat kebakaran, sementara pembalakan liar di sana juga intensif. Jadi ini merupakan prioritas kami. Saat ini, kami terus berusaha memastikan orangutan yang kami translokasi hidup tanpa gangguan di tempat mereka yang baru di Mantangai dan Bagantung,” papar Jhanson.

Terkait pembalakan liar, diperkirakan masih ada ratusan meter kubik kayu yang telah ditebang, yang saat ini ditumpuk di percabangan sungai menunggu untuk dikeluarkan dari dalam hutan. Yayasan BOS dan BKSDA Kalimantan Tengah mengharapkan bantuan dan dukungan dari berbagai pihak untuk mengatasi kerusakan habitat yang berkelanjutan di wilayah Mawas ini.

Apabila bantuan dan dukungan tidak segera diperoleh, hutan gambut kritis ini, yang berfungsi sebagai salah satu populasi orangutan liar yang tersisa saat ini, akan mengalami dampak yang tidak terbayangkan, termasuk 3.000 orangutan liar yang saat ini hidup di daerah tersebut.

 

Berita Terkait