Berita Terkini Komunitas 

Perbedaan Tak Perlu Ongkos

1435789537856BALIKPAPAN, Cahayakaltim.com — Toleransi tercoreng di beberapa belahan di tanah air ini di pertengahan Juli 2015 ini. Sebutlah Tolikara di Papua yang terakhir mengemuka. Kelompok yang mengatasnamakan Kristen melarang kelompok lain, Islam yang sedang menjalankan ibadah raya Idul Fitri, menggelar Shalat Ied.

Perbedaan di antara mereka harus dibayar dengan ongkos mahal dari kedua pihak, mulai dari harta benda, rumahi badah, bahkan hingga nyaris menelan korban jiwa.

Contoh lain tentang betapa mahal ongkos perbedaan paham, idealisme, keyakinan, dan pandangan, di negeri ini bias ditemui di banyak tempat dari waktu ke waktu.

Tapi mari tengok kesebuah rumah mungil di JalanTemindung di Kelurahan Muara Rapak Balikpapan.Sekitar 15 orang berkumpul di rumah Achdian Noor di JlnTemindung di Kelurahan Batu Ampar.

Siapa tidak kenal Achdian yang seorang pengusaha muda keturunan ulama besar Samarinda. Mereka berembug untuk sebuah malam yang dinamai Mahakarya Putera Bangsa di Hotel Benakutai di Balikpapan pada keesokan harinya, 2 Juli 2015.

Mereka berasal dari dua kelompok berbeda, yakni yang mengatasnamakan cendikia muda berlandas pemikir Islam di satu kelompok, di kelompok lain adalah pemuda dari kaum Kristiani. Mereka berniat mengadakan malam amal berupa lelang lukisan salah satu tokoh pemuda, Abriantinus. Mereka menyepakati, hasil lelang nanti adalah untuk menghidupi kegiatan untuk membesarkan nama dan aktivitas mereka selama ini.

Yang menarik dari mereka bukan pertemuan dan kerukunan kedua kelompok. Tapi penghargaan pada perbedaan di antara mereka. Tanpa menonjolkan suku, agama, dan bahasa, mereka membahas satu tujuan yakni gelaran amal di hotel nanti berhasil dengan baik.

Yang menarik, sekalipun berbeda dalam keyakinan di antara mereka tetapi tidak perlu ongkos mahal untuk menyatukan, tanpa banyak membahas dan mengkritisi apa saja perbedaan di antara mereka.

Suasana itu tampak dari awal pertemuan dan akhir pertemuan di antara mereka itu.

Seorang pemuda yang dituakan, Rachman Nur mengawali dengan memanjat doa menurut keyakinannya yakni Islam, disusul Denny Kindengan dengan keyakinan Kristennya. Bisa jadi, bila ada lima orang dengan kepercayaan berbeda, maka acara itu diawali dengan lima doa berbeda.

Doa  seperti ini kembali dibawakan di akhir penutupan rapat.

“Bertemu dengan teman-temanseperti ini sudah biasa buat saya. Maka, tidak kaget kalau bertemu dengan pak Abriantinus dan kawan-kawan. Kita malah semakin mengerti pada penghargaan yang sejati pada perbedaan,” kata Achdian.

Aktivitas seperti ini, selalu digunakan saat mereka memulai dan mengakhiri pertemuan hingga saat ini.  (dani)

Berita Terkait