Balikpapan Berita Headline 

Polemik air, mantan Dewan Penasehat PDAM Balikpapan angkat bicara

Waduk Manggar yang makin menurun pasokan air untuk warga Balikpapan. (michael mailangkay/cahayakaltim.com)
Waduk Manggar yang makin menurun pasokan air untuk warga Balikpapan. (michael mailangkay/cahayakaltim.com)

BALIKPAPAN, CAHAYAKALTIM.com–Krisis air yang masih melanda Kota Balikpapan dalam beberapa minggu terakhir ini, disikapi oleh mantan Dewan Penasehat PDAM kota Balikpapan, Ir Sudjatmiko.

Menurutnya waduk Manggar merupakan sumber utama air baku yang dikelola oleh PDAM di balikpapan. Sedang sumber lain seperti ‘sumur dalam’ hanya sarana pendukung sebagai support yang boleh dikatakan masih kurang significant.

Lebih lanjut ia mengatakan secara teknis pengambilan air diwaduk manggar: pada level 10 meter boleh diambil 1000 liter perdetik.

“Jika pengambilan air maksimal, ini akan berdampak pada menurunnya level waduk setiap hari sekitar 3cm,” ujar Sudjatmiko

Ir Sudjatmiko. (alfian tamzil/cahayakaltim.com)
Ir Sudjatmiko. (alfian tamzil/cahayakaltim.com)

Lebih lanjut ia mengatakan apabila level waduk di posisi level 5 meter, maka tidak mungkin diambil secara maksimal.

“Sebab jika hal ini dilakukan diharapkan agar cadangan tidak cepat kosong,” ujar alumni Fakultas Teknik Sipil Universitas Gajah Mada ini kepada cahayakaltim.com

Menurutnya pihak PDAM harus memiliki kebijakan di dalam pengambilan waduk agar dikurangi dan digunakan sistim bergilir.

“Dengan harapan masyarakat ikut berhati hati di dalam memanfaatkan air, meningat kondisi air saat ini cukup mengkhawatirkan,” paparnya.

Menurut Sudjatmiko, apabila waduk berada di posisi di level 3 meter, seyogyanya waduk tersebut sudah tidak dibolehkan lagi untuk diambil airnya karena sudah bercampur lumpur.

Lebih lanjut Sudjamitko memaparkan agar sistim penggiliran air itu hendaknya ditopang dari ipal KM 8 dan ipal Damai. Keduanya dijalankan bergantian sesuai zonasi kawasan yang mengalami penggiliran.

Menurutnya, kalau jatah air yang mengalir tapi tetap tidak ada airnya, kemungkinan terbesar adalah kondisi rumah warga yang berada di dataran yang tinggi atau jauh dari pompa boster.

Hal ini berakibat pada daerah daerah yang berada di dataran tinggi yang berdampak pada tidak adanya kebagian air di bagian bawah.

“Ini dikarenakan jatah yang disuplai kepada pelanggan PDAM sudah terlebih dahulu  didistribusikan  kepada pelanggan yang bermukim di daerah yang rendah atau yang dekat dengan dengan boster,” ujar Sudjatmiko lagi.(alfiantamzil)

 

Berita Terkait