Berita Headline Hukum 

Polisi hutan selamatkan icon Kaltim

Pihak Kepolisian kehutanan saat menggelarjumpa pers terkait pengungkapan penyelundupan satwa dilindungi. (raya fatahillah/cahayakaltim.com)
Pihak Kepolisian kehutanan saat menggelarjumpa pers terkait pengungkapan penyelundupan satwa dilindungi. (raya fatahillah/cahayakaltim.com)

SAMARINDA, cahayakaltim.com — Satuan Polisi Kehutanan Reaksi Cepat (SPORC) Kalimantan Timur (Kaltim), berhasil mengamankan belasan satwa liar yang dilindungi, pada Jumat (18/9/2015).

Hewan-hewan tersebut diselundupkan dari Kalimantan Selatan (Kalsel) menuju Kalimantan Timur (Kaltim) menggunakan jalur darat atau bus.

Di antara hewan-hewan yang disita terdapat enam ekor anaan kucing hutan, empat ekor bayi lutung merah, seekor owa-owa dan empat ekor bayi elang bandol.

Ke lima belas hewan tersebut disita SPORC dari tangan seorang pelajar berinisial FR, yang disinyalir sebagai distributor untuk penjualan di Samarinda dan Tenggarong.

Dikatakan Komandan Brigadir Enggang SPORC, Haris Sri Kuntjoro, diduga FR masuk dalam jaringan sindikan penjualan hewan langka.

Namun FR tidak pernah tahu, dengan siapa dia berkomunikasi. Bahkan, untuk transaksi jual beli pun, FR hanya dipersilahkan transfer uang seharga total pembelian.

“Diduga ini modus berjaringan. FR membeli hewan-hewan tersebut, lalu menjualnya secara online. Untuk pembayaran, FR selalu transfer ke Kalsel. Meski berbisnis, FR sama sekali tidak tahu dengan siapa dia berhubungan. Mereka hanya berkomunikasi melalui ponsel,” jelasnya.

Sayangnya, FR masih berstatus pelajar di bawah umur. Sehingga, saat ini FR masih belum ditahan.

Meski demikian, lanjut Haris, pihaknya akan tetap memroses FR dan segera melimpahkan berkasnya ke pengadilan. “Paling lambat Rabu sudah kami limpahkan berkasnya. Saat ini FR tidak di tahan karena usianya masih lima belas tahun,” kata Haris.

Senada, Koordinator Polisi Hutan dan PPNS BKSDA Kaltim Suryadi mengatakan, bersama-sama denga Polresta Samarinda, akhirnya SPORC brhasil melakukan pengintaian dan penyelidikan terhadap jual beli hewan yang dilindungi secara online.

Mereka melakukan pengintaian hingga penggerebekan, selama kurang lebih satu bulan. Bahkan, pihaknya berhasil mendapat informasi awal dari sebuah akun facebook, yang memposting tentang jual beli hewan tersebut.

“Semua hewan tersebut masih anakan. Harga satuan dari masing-masing satwa tersebut dijual berkisar Rp 250 ribu-Rp 500 ribu. Hewan-hewan ini sementara masih berada di markas SPORC, untuk kemudian akan dititipkan di balai konservasi,” jwlas Suryi

Sedangkan FR diancam dengan pasal 21 A jo pasal 40 ayat 2, tentang pelanggaran menjual, memiliki dan memperniagakan, pelaku akan dikenakan denda sebesar Rp 100 juta dan hukuman penjara maksimal 5 tahun.

“Meski dibawah umur, tapi karena ini hewan langka yang dilindungi, maka akan tetap diproses,” tegas Suryadi. (raya fatahillah)

Berita Terkait