Berita Headline Hukum 

Selingkuh, suami cekik istrinya hingga tak bernyawa

Ilustrasi
Ilustrasi

PENAJAM, cahayakaltim.com–Rasa cemburu Jumansyah alias Icang (26), warga RT 15 Kelurahan Sotek, Kecamatan Penajam, Penajam Pasir Utara (PPU), tidak lagi terbendung. Selagi istrinya yang bernama Siti Sarah (22) tidur-tiduran sambil asyik menelepon, Icang memukulkan kayu bakar ke lehernya.

Perbuatan Icang berlanjut dengan menghabisi nyawa Siti dengan cara dicekik. Icang mengungkap kembali peristiwa yang dilakukannya pada 5 Januari 2015 lalu.

“Dia setiap hari menelepon pacarnya, bahkan di depan saya. Saya tegur dijawab ‘bukan urusanmu’. Siapa tidak sakit hati. Ini sudah berlangsung lama,” kata Jumansyah, Rabu (16/9/2015).

“Saya ambil kayu bakar segini (40 Cm) lalu pukul leher sampingnya. Ia rebah. Saya cekik dia karena teriak. Saya tinggal setelah dia tidak lagi bergerak,” kata Jumansyah.

Icang hari-hari menjadi tukang panen sawit di Penajam. Ia menikahi Siti secara resmi di rumah orang tua mereka di Sotek, lima tahun silam. Keduanya dikaruniai seorang putra.

Beberapa bulan sebelum peristiwa terjadi, Siti sering telpon-telponan dengan seseorang yang diyakini Icang adalah kekasih gelapnya.

Saling telpon itu tidak kenal waktu dan bisa berlangsung sepanjang hari. Siti selalu ketus tiap ditegur.

Siti mulai menunjukkan sikap ini setelah Icang pulang ke rumah orang tuanya di Kota Baru, Kalimantan Selatan, tiga bulan lamanya.

Sepulang dari Kalsel itu, Jumansyah sempat meminta bisa melakukan hubungan suami istri sebagaimana biasanya. Siti menolak. Ini terjadi berulang kali.

“Saya tahu dia lepas suntik KB sebelum saya ke Banjar. Saya pulang tentu kangen dan minta bisa berhubungan, tapi dia selalu tidak mau. Saya pendam saja hasrat ini dan diam,” katanya.

Sejak kepulangannya, Icang melihat Siti sering kali menelepon orang lain. Ia menduga itu kekasih barunya. Sejumlah kesaksian dari tetangga bahkan anaknya mengungkap bahwa Siti sudah memiliki kekasih.

“Anak saya bilang juga bilang begitu (pacaran). Saya pernah mengintip istri dicium laki-laki itu,” katanya.

“Saya sakit hati. Satu hari telah ciuman itu, saat istri sedang menelepon, saya pukul dia. Setelah (mencekik mati) itu, saya bawa lari anak saya ke Kota Baru, keluarga di sana,” katanya.

Icang bersembunyi selama tujuh bulan di Kota Baru. Ia menjadi buruh tambang liar dan tinggal di pondok-pondok buruh kasar.

Pelarian Jumansyah berakhir Selasa (15/9/2015) subuh pukul 02.00. Jumansyah tidak berkutik ketika polisi menyergapnya selagi sedang tidur dalam pondok.  

Jerat hukum menunggu Jumansyah. Polisi menetapkan pasal pembunuhan pada pria bertubuh mungil ini.

“Kami terapkan pasal 338 junto 44 tentang pembunuhan. Perbuatannya akan membuat dirinya dihukum bisa sampai 15 tahun,” kata Kabid Penmas Polda Kaltim, AKBP Ashadi. (kompas/d j zebua)

Berita Terkait