Berita Headline Lingkungan 

WWF ajak selamatkan Badak tersisa di Kalimatan

ist (dok/wwf)
ist (dok/wwf)

BALIKPAPAN, cahayakaltim.com ­-Penemuan tanda-tanda keberadaan badak di kalimantan awal tahun 2013 menjadi momentum penting bagi dunia konservasi badak di indonesia maupun di dunia.

Dalam beberapa dekade terakhir, banyak pihak meyakini bahwah badak di pulau kalimantan sudah punah.

Sejatinya kerap hadir dalam cerita rakyat masyarakat Dayak, demikian juga dengan kenyataan bahwa ada anggota masyarakat yang memiliki organ tubuh badak sejak lama.

Survey bersama yang dilakukan kementrian lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), Pemerintah Daerah Kabupaten Mahakam Ulu, Universitas Mulawarman (Unmul),Yayasan Badak Indonesia (YABI) dan WWF Indonesia pada akhir tahun 2013 sampai awal tahun 2014 berhasil merekam keberadaan badak melalui kamera jebak.

Sejak itu pula, perlindungan populasi badak di Kalimantan menjadi perhatian serius.

Pertemuan para pihak di Balikpapan yang berlangsung selama 2 hari 21-22 September 2015 di Hotel Grand Sanyiur, yang bertajuk Pertemuan Nasional Para Pihak untuk Upaya Konservasi Badak di Kalimantan dan Penyusunan Srategi Konservasi Badak di Kalimantan, bertujuan untuk menggagas langkah konkret sebagai upaya konservasi badak Nasional 2007-2017.

Dr. ir. Tachrir Fatoni MSc, Direktur Jenderal Konservasi  Sumber Daya Alam dan Ekosistem KLHK, mengigatkan dari 5 jenis badak yang ada di dunia, dua diantaranya hidup di Indonesia, yaitu Bdak jawa (Rhinocerus sonddaicua) dan Badak Sumatera (Dicerhorinus sumatrensis).

“Kedua jenis tersebut kini hanyatersisa di Indonesia.ini meupakan kebanggaan, tantangan dan tanggung jawab bagi kita semua,” kata Tachrir Fatoni.

Bupati Kutai Barat, Ismael Thomas, mengeluarkan surat  edaran dan himbawan kepada masyarakat dan jajaran pemerintah Kabupaten untuk turut membantu upaya penyelamatan badak di Kutai Barat.

“Saya menyambut gembira pertemuan ini dan berharap tumbuh kerjasama yang berkelanjutan dari para pihak yang hadir untuk melestarikan badak di Kalimantan Khususnya di Kutai Barat,” kata Ismael Thomas.

Thomas juga mengatakan keberadaan Badak di Kutai Barat juga menjadi kebanggan masyarakat, kususnya di kampung Besiq, yang selalu aktif mendukung upaya konservasi badak di Kalimantan.

Ini membawah harapan baru bahwa badak akan selalu menjadi bagian dari kehidupan masyarakat di Kalimantan.

Smeentara itu, menurut Direktur Konservasi WWF Indonesia, Doktor Arnold Sitompul, hasil survey WWF Indonesia di lansekap Hulu Mahakam, habitat badak teridentifikasi berada di dalam kawasan hutan produksi, sehingga dikhawatirkan keberadaannya terancam oleh praktif penggunaan lahan yang tidak memperhatikan kaidah perlindungan terhadap habitat satwa liar.

“WWF percaya dengan peran aktif pemegang izin konsesi melalui penerapan kaidah konservasi dan prinsip berkelanjutan menjadi salah satu kunci untuk mewujdkan kelestarian lingkungan hidup dan koservasi badak pada khususnya,” kata  Arnold Sitompul. (adv/chips paat)

Berita Terkait